Aksi Gema Kabupaten Bandung Desak Militer Kembali ke Barak dan Kritik Kebijakan

sekitarbandung.com – Aksi Gema Kabupaten Bandung kembali mencuat dengan unjuk rasa di kompleks Pemkab Bandung pada Rabu (3/9/2025). Puluhan aktivis turun ke jalan membawa berbagai

Aracely Azwa

Aksi Gema Kabupaten Bandung Desak Militer Kembali ke Barak dan Kritik Kebijakan

sekitarbandung.com – Aksi Gema Kabupaten Bandung kembali mencuat dengan unjuk rasa di kompleks Pemkab Bandung pada Rabu (3/9/2025). Puluhan aktivis turun ke jalan membawa berbagai tuntutan, mulai dari desakan agar militer kembali ke barak hingga kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat.

Aksi yang berlangsung sejak pukul 14.00 WIB hingga menjelang magrib ini diwarnai dengan orasi bergantian, pembacaan pernyataan sikap, serta pembakaran ban mobil sebagai simbol perlawanan.

Aksi Gema Kabupaten Bandung Kritik Militer dan Pemerintah

Dalam orasinya, Aksi Gema Kabupaten Bandung menyoroti praktik represif aparat kepolisian dan militer terhadap demonstran di sejumlah kota. Menurut mereka, tindakan represif mencederai demokrasi dan melanggar hak warga negara untuk menyampaikan pendapat.

Koordinator aksi, Yogi Noviantoro, menegaskan militer seharusnya fokus menjaga pertahanan negara, bukan ikut campur dalam urusan sipil.

“Kami menuntut militer kembali ke barak. Demokrasi tidak boleh dikotori dengan tindakan represif yang membungkam suara rakyat,” ujarnya di sela aksi.

Baca Juga: Kelembapan Udara di Kabupaten Bandung Meninggi, Waspadai Potensi Hujan Lokal

Tuntutan Buruh hingga Isu Pendidikan

Selain persoalan militer, Aksi Gema Kabupaten Bandung juga mengangkat isu kesejahteraan buruh. Massa menolak praktik outsourcing, sistem upah murah, dan menuntut jaminan kerja yang lebih adil.

“Buruh harus mendapatkan upah layak, kepastian kerja, dan perlindungan hak. Bukan malah ditekan dengan kebijakan pro korporasi,” kata Yogi.

Isu pendidikan pun tidak luput dari sorotan. Massa menilai banyak kebijakan pendidikan membuka ruang komersialisasi, sehingga layanan pendidikan sulit dijangkau masyarakat kecil.

“Kami menuntut pendidikan adil, terjangkau, dan tidak dikomersialisasi. Pendidikan adalah hak rakyat, bukan barang dagangan,” tambahnya.

Kritik Kebijakan Tambang di Kabupaten Bandung

Aksi ini juga menyoroti maraknya izin tambang di Kabupaten Bandung. Menurut massa, kebijakan longgar terhadap investasi tambang memperburuk kualitas hidup warga dan merusak lingkungan.

“Kami tidak ingin ruang hidup masyarakat dikorbankan demi kepentingan tambang. Pemerintah harus tegas berpihak pada rakyat, bukan hanya pada investor,” ungkap salah seorang peserta aksi.

Menurut Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), praktik tambang yang tidak terkendali memang sering menjadi pemicu kerusakan ekosistem dan konflik sosial di berbagai daerah. Kondisi ini juga menjadi perhatian aktivis lingkungan yang mendampingi aksi di Bandung.

Kekecewaan Terhadap Gerakan Mahasiswa

Menariknya, Aksi Gema Kabupaten Bandung juga melontarkan kritik terhadap gerakan mahasiswa. Massa menilai mahasiswa saat ini tidak lagi kritis dalam mengawal isu demokrasi dan keadilan sosial.

“Mahasiswa seharusnya berada di garda depan. Tapi sekarang, banyak yang bungkam dan jauh dari semangat perlawanan,” kata Yogi.

Meski jumlah massa aksi hari itu hanya sembilan orang, mereka menegaskan skala perlawanan akan terus diperbesar.

“Hari ini sembilan orang, besok bisa seratus, bahkan lebih. Kami akan terus memperbesar solidaritas,” tegasnya.

Dukungan dan Sorotan Eksternal

Menurut Komnas HAM, tindakan represif aparat terhadap demonstran berpotensi melanggar hak asasi manusia. Hal ini sejalan dengan kritik yang disuarakan oleh Aksi Gema Kabupaten Bandung, yang menilai demokrasi sedang berada dalam kondisi darurat.

Selain itu, sejumlah lembaga bantuan hukum, termasuk LBH Bandung, juga kerap menyoroti kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada rakyat kecil, khususnya terkait isu buruh dan pendidikan.

Aksi Gema Kabupaten Bandung Akan Terus Berlanjut

Aksi yang berlangsung hampir lima jam ini ditutup dengan pembakaran ban mobil di depan Pemkab Bandung. Asap hitam mengepul dan menarik perhatian warga sekitar.

Dalam pernyataan penutup, Aksi Gema Kabupaten Bandung menegaskan komitmennya untuk terus mengawal isu demokrasi, buruh, pendidikan, hingga lingkungan.

“Perlawanan ini tidak akan berhenti di sini. Kami akan terus hadir di jalanan, memperbesar solidaritas, dan menyuarakan kepentingan rakyat,” pungkas Yogi.

Jika ingin update tentang hal di sekitar Bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

Related Post

Tinggalkan komentar