Inilah Alasan Mengapa Kita Senang Posting di Media Sosial Saat Ada Masalah

Sekitarbandung.com – Saat sedang burnout dengan atasan, kita langsung membuka HP untuk membuat story “sambat” di close friends media sosial. Niatnya agar lega dan jujur

Dicky Wicaksono

[addtoany]

Inilah Alasan Mengapa Kita Senang Posting di Media Sosial Saat Ada Masalah

Sekitarbandung.com – Saat sedang burnout dengan atasan, kita langsung membuka HP untuk membuat story “sambat” di close friends media sosial.

Niatnya agar lega dan jujur dengan emosi sendiri. Tetapi setelah menekan tombol posting, justru menjadi cemas, bolak-balik mengecek views, dan ujung-ujungnya tetap merasa hampa.

Dalam bermedia sosial, kita sering terjebak oleh lingkaran algoritma. Bahkan dalam kondisi tertentu, media sosial justru “senang” dengan kesedihanmu.

Konten yang berisi emosi ekstrem atau curhat colongan terkadang sengaja digoreng agar mendapatkan interaksi yang tinggi.

Saat mendapatkan likes atau direct message berisi simpati, otak kita langsung mendapatkan suntikan dopamin secara instan.

Bahayanya, hal tersebut bisa membuat kecanduan. Tanpa sadar, kita menjadi hobi “terlihat sedih” terus-menerus di media sosial hanya demi mengejar validasi.

Riset global dari McKinsey Health Institute kepada sekitar 26 ribu responden membuktikan bahwa Gen Z yang kecanduan media sosial mempunyai risiko kesehatan mental yang jauh lebih buruk.

Dampaknya yaitu kita menjadi suka mendiagnosis diri sendiri. Hanya bermodal menonton video singkat berdurasi 15 detik, kita langsung mengklaim,

Baca Juga: Inilah Alasan Mengapa Sering Merasa Mimpi Melayang dan Jatuh dari Ketinggian

“Kayaknya aku bipolar deh.”

Padahal belum tentu benar, karena belum pernah ke psikolog sama sekali.

Seburuk itukah curhat di media sosial?

Tidak juga, karena jujur terhadap emosi itu sehat. Tetapi, oversharing mulai masuk lampu merah saat tujuannya hanya demi candu mencari validasi dari orang lain.

Lebih-lebih saat kita mulai menumpahkan trauma pribadi tanpa memikirkan kenyamanan orang yang membacanya.

Baiknya bagaimana ya?

Coba tanyakan secara lembut kepada diri sendiri. Kita benar-benar ingin bercerita atau hanya sedang haus validasi?

Jika memang sudah tidak tahan ingin mengeluarkan unek-unek, maka sebaiknya ketik di notes HP atau langsung telepon bestiemu.

Curhat seperti itu jauh lebih membuat tenang dibandingkan menunggu angka views di media sosial.

Baca Juga: Inilah Alasan Mengapa Inggris Pilih Jalan Berbeda, Jalur Kiri dalam Berkendara

Related Post

Tinggalkan komentar