Sekitarbandung.com – Pada kenyataannya, MBG bukanlah program kecil. Per Maret 2026, lebih dari 61 juta orang telah menjadi penerima manfaat, dengan ribuan dapur serta rantai distribusi yang sudah berjalan.
Narasinya, pemerintah menyebut ini sebagai langkah menuju Indonesia Emas 2045, karena masih banyak masyarakat yang belum mampu mengakses makanan bergizi, dan stunting memang menjadi masalah nyata.
Namun, ada faktor lain yang tidak kalah penting, yaitu insentif politik. Program ini merupakan janji kampanye besar. Jika dihentikan, dampak politiknya bisa jauh lebih mahal dibandingkan tetap berjalan meskipun menghadapi berbagai masalah.
Selain itu, dana sudah terlanjur besar, sistem sudah terbentuk, dan banyak pihak telah bergantung. Selama masih ada yang merasa terbantu, dukungan publik akan tetap ada, dan itu cukup untuk mempertahankan program ini.
Baca Juga: Muhammad Farhan Dorong Sekolah di Bandung Olah Sampah Makanan dari Program MBG
Dari sisi anggaran, program ini membutuhkan ratusan triliun rupiah dan berisiko menekan defisit. Belum lagi pengawasan yang belum kuat, potensi korupsi, hingga kasus keracunan yang terus muncul.
Bahkan negara lain seperti Brasil, India, dan Jepang membutuhkan waktu bertahun-tahun serta regulasi yang kuat untuk menjalankan program serupa. Sementara Indonesia mencoba melakukannya secara masif dalam waktu singkat.
Intinya, ini bukan lagi soal program bagus atau tidak, tetapi tentang program yang sudah terlalu besar untuk gagal dan berisiko jika dibiarkan tanpa kontrol.
Pada akhirnya, keberlanjutan MBG akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah dalam memperbaiki tata kelola, memperkuat pengawasan, serta memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan tanpa menimbulkan risiko baru.
Baca Juga: Momen Kocak Sejumlah Cowok Ini Bangunin Sahur di Depan SPPG Pakai Lagu MBG

