Sekitarbandung.com – Sejak muda, B.J. Habibie memiliki satu impian besar, yaitu menyatukan ribuan pulau di Nusantara dengan pesawat terbang buatan anak bangsa. Ia pulang dari Jerman dengan segudang prestasi.
Setelah itu, ia membangun Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Puncaknya terjadi pada tahun 1995. Pesawat N-250 Gatotkaca hasil rancangannya sukses mengudara. Dunia internasional tercengang melihat kemampuan Indonesia.
Krisis Moneter 1997-1998
Namun, langit cerah tersebut mendadak berubah menjadi gelap. Badai Krisis Moneter 1997-1998 menghantam Asia dan ekonomi Indonesia mengalami tekanan besar dalam waktu singkat.
Rupiah terjun bebas, inflasi meroket, dan kerusuhan pecah di berbagai wilayah. Negara berada di ambang krisis yang sangat berat. Di tengah situasi tersebut, pemerintah terdesak mencari jalan keluar darurat.
Meminta Bantuan IMF
Inilah mengapa untuk menyelamatkan ekonomi yang sedang tertekan, Indonesia terpaksa meminta bantuan Dana Moneter Internasional (IMF). Namun, IMF datang dengan sejumlah syarat.
Mereka menuntut pemerintah untuk menghentikan seluruh proses pendanaan terhadap industri strategis nasional.
Artinya, proyek pesawat terbang kebanggaan Habibie harus dikorbankan. Dana penyelamatan hanya dapat dicairkan jika IPTN dihentikan.
Soeharto Setuju
Pada 15 Januari 1998, Presiden Soeharto akhirnya menandatangani Letter of Intent (LoI) di bawah pengawasan IMF. Sebagai kepala proyek, Habibie terpaksa menerima kenyataan yang sangat berat dalam hidupnya.
Alokasi dana untuk mahakaryanya resmi dihentikan. Impian besar sang bapak teknologi harus dikorbankan demi menyelamatkan kebutuhan masyarakat Indonesia yang sedang menghadapi krisis.
Dampak Sangat Tragis
Dampaknya sangat besar bagi dunia dirgantara Indonesia. Belasan ribu insinyur IPTN terpaksa dirumahkan. Banyak dari mereka kemudian melanjutkan karier di industri penerbangan luar negeri.
Pesawat N-250 Gatotkaca yang telah dipersiapkan untuk diproduksi secara massal gagal melanjutkan pengembangannya. Kini, mahakarya tersebut menjadi bagian dari sejarah dan tersimpan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.
Mengalah demi Rakyat
Saat resmi dilantik menjadi Presiden ke-3, Habibie sebenarnya memegang kewenangan untuk mencabut keputusan tersebut dan menghidupkan kembali IPTN. Namun, ia memilih fokus pada pemulihan kondisi masyarakat dan ekonomi nasional.
Dalam waktu singkat, ia berhasil menekan nilai tukar rupiah dari Rp16 ribu kembali ke bawah Rp7 ribu. Selain itu, ia juga membuka kebebasan pers dan meletakkan fondasi demokrasi.
Lebih lanjut, ia memang kehilangan proyek pesawat yang menjadi impiannya, tetapi berhasil membantu Indonesia melewati masa krisis yang sangat berat.
Baca Juga: Sehari Pasca Soeharto Mundur, Presiden Habibie Perintahkan Copot Prabowo dari Jabatannya

