Bangga! Karedok Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda

Sekitarbandung.com – Kabar gembira bagi warga Jawa Barat. Pasalnya, karedok ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda – Kemahiran dan Kerajinan Tradisional wilayah Budaya Priangan Provinsi

Dicky Wicaksono

Bangga! Karedok Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda
Bangga! Karedok Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda (Instagram/@humas_jabar)

Sekitarbandung.com – Kabar gembira bagi warga Jawa Barat. Pasalnya, karedok ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda – Kemahiran dan Kerajinan Tradisional wilayah Budaya Priangan Provinsi Jawa Barat.

Bumbunya sederhana, hanya garam, terasi, cikur (kencur), gula, bawang putih, dan daun kemangi (surawung). Cabai bisa ditambahkan untuk mendapatkan rasa pedas.

Sementara isian sayurannya biasanya disesuaikan dengan selera. Yang populer yakni karedok kacang panjang, karedok leunca, dan karedok terong.

Setelah bumbu halus, masukkan kemangi untuk diulek kasar. Kemudian sayuran mentah yang telah ditiriskan lalu diaduk dengan bumbu hingga padu dan siap dihidangkan.

Ragam sayuran yang lazim digunakan untuk karedok yaitu mulai dari kacang panjang, mentimun, toge, kubis, hingga kemangi.

Baca Juga: Jawa Barat Siap Sambut Ramadan dan Idulfitri 2026, Stok Pangan Dipastikan Aman dan Surplus

Asal-usul Karedok

Nama karedok konon berasal dari sebuah perkampungan di seberang Sungai Cimanuk di wilayah bekas Kerajaan Sumedang Larang.

Pada awalnya, penduduk kampung ini berpindah ke kampung Rancakeong (juga dikenal sebagai Babakan Dodol) karena musibah tanah longsor.

Kampung kecil ini berkembang pesat karena tanahnya subur sehingga banyak pendatang menetap di sana.

Saat itu, wilayah Sumedang dipimpin oleh seorang bupati bernama Pangeran Aria Suria Atmaja, yang gemar menangkap ikan (ngalintar) di Sungai Cimanuk dekat Rancakeong.

Ketika lelah, ia beristirahat di kampung tersebut. Warga setempat menyuguhkan karedok terong sebagai lauk sederhana. Sang bupati sangat menikmati rasa hidangan itu.

Karena kenikmatan karedok yang dirasakan sang bupati dan kemudian juga oleh para sesepuh Sumedang, nama kampung Rancakeong pun berubah menjadi “Desa Karedok” hingga sekarang sebagai penghormatan terhadap hidangan khas tersebut.

Karedok Pride

Berbeda dengan olahan sayuran lainnya, karedok disajikan tanpa proses pemasakan. Seluruh bahan digunakan dalam kondisi segar sehingga kandungan gizi tetap terjaga.

Karedok tidak hanya menjadi sajian kuliner, tetapi juga bagian dari warisan budaya Jawa Barat yang terus dilestarikan hingga kini.

Selain itu juga cocok dimakan bersama-sama dan menjadi perekat masyarakat Jawa Barat sejak zaman dulu.

Baca Juga: Produksi Dodol Keranjang di Bandung Meningkat Jelang Imlek 2026

Related Post

Tinggalkan komentar