sekitarbandung.com – Bantuan Buku Perpusnas kembali digulirkan untuk memperkuat literasi masyarakat di Jawa Barat. Melalui kunjungan kerja ke Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis, Kepala Perpusnas RI, E. Aminudin Aziz, menegaskan bahwa membaca bukan sekadar aktivitas, melainkan gerakan bersama yang mampu mengubah wajah desa.
Budaya Baca Masih Rendah, Perpusnas Turun Tangan
Fakta mencengangkan disampaikan Aminudin. Rata-rata masyarakat Indonesia hanya membaca setengah buku per bulan. Dalam setahun, jumlah buku yang dibaca sekitar 5,9 eksemplar dengan waktu membaca hanya 129 jam.
“Ini bukan sekadar angka. Data ini menunjukkan betapa besar tantangan yang harus kita jawab bersama,” ucapnya saat bertemu penggerak literasi di Garut, Jumat (12/9/2025).
Baca Juga: BRI Pemberdayaan WBP Nusakambangan melalui BLK dan Program Kelapa
Perpustakaan Desa Jadi Ujung Tombak
Menurut Aminudin, perpustakaan desa harus menjadi pusat kegiatan masyarakat. Ia menegaskan, kualitas tidak diukur dari besar atau megahnya bangunan, tetapi dari aktivitas di dalamnya.
“Jika satu desa memiliki perpustakaan yang hidup, dengan kegiatan belajar, membaca, hingga diskusi, itu jauh lebih berharga daripada gedung megah yang sepi,” katanya.
Semua buku bantuan dari Perpusnas telah diberi tanda resmi dan tidak boleh diperjualbelikan. Buku adalah hak warga dan wajib dimanfaatkan bersama.
Info resmi terkait literasi bisa dilihat di Perpusnas RI.
Sistem Akreditasi Perpustakaan Diubah
Perpusnas kini mengubah sistem akreditasi perpustakaan. Jika sebelumnya penilaian lebih banyak pada sarana-prasarana, kini bobot terbesar diberikan pada aktivitas literasi (70%), sementara compliance hanya 30%.
Artinya, perpustakaan dituntut lebih aktif menyelenggarakan kegiatan seperti kelas membaca, bedah buku, hingga pelatihan literasi digital.
Bagaimana Cara Desa Mendapat Bantuan Buku Perpusnas?
Tidak semua desa bisa langsung mendaftar. Pengajuan harus melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten/Kota dengan syarat:
-
Ada perpustakaan aktif dengan pengurus jelas
-
TBM sudah rutin mengadakan kegiatan literasi
-
Tersedia ruang untuk menyimpan dan mengelola buku
Hanya desa dan TBM yang benar-benar hidup dan berkomitmen yang berhak menerima bantuan.
Relawan Literasi, Motor Penggerak Tanpa Bayaran
Program ini juga diperkuat oleh Relawan Literasi Masyarakat (Relima). Mereka adalah sosok-sosok yang bekerja tanpa pamrih, namun terus menggerakkan minat baca di lingkungannya.
“Relawan literasi itu bekerja dengan hati, bukan gaji. Inilah energi yang membuat gerakan literasi terus menyala,” ujar Aminudin.
Dampak Nyata di Lapangan
Di Kabupaten Garut, Kepala Dispusip Totong melaporkan bahwa dana bantuan dari Perpusnas telah dimanfaatkan untuk penguatan perpustakaan. Tahun depan, program diperluas ke rumah ibadah dan lembaga pemasyarakatan.
Di Ciamis, relawan Wida Waridah bercerita bahwa buku bantuan menjadi favorit warga binaan lapas. Koleksi yang ada bahkan sudah habis dibaca sehingga permintaan tambahan buku pun diajukan.
Sementara itu, TBM Rumah Koclak sukses menggelar Hajatan Sastra pada akhir Agustus. Ribuan buku bantuan Perpusnas dipajang dan dinikmati pelajar dari tingkat MI hingga SMA.
Membangun Komunitas Belajar Bersama
Aminudin menegaskan, literasi bukan hanya tanggung jawab perpustakaan, tetapi gerakan kolektif. Desa yang memiliki perpustakaan aktif bisa menjadi inspirasi bagi desa lain.
“Kita ini komunitas pembelajar. Kalau ada desa dengan perpustakaan maju, desa lain bisa belajar. Dari sinilah gerakan literasi masyarakat tumbuh,” pungkasnya.
Jika ingin update tentang hal di sekitar Bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

