Sekitarbandung.com – Pada abad ke-16, Kesultanan Buton menyadari bahwa wilayah perairan mereka mempunyai risiko tinggi menjadi incaran bajak laut dan armada bangsa Eropa, seperti Portugis dan VOC.
Sebagai tameng dari ancaman tersebut, mereka tidak membangun pertahanan di tepi pantai, melainkan di puncak bukit.
Taktik ini dipilih agar pergerakan armada musuh di Selat Baubau dan Pulau Muna yang berada di depannya bisa langsung dipantau dari kejauhan sebelum mendekat.
Maka, dibangunlah tembok melingkar sepanjang 2.740 meter yang mengunci area seluas 23,3 hektare.
Hal ini setara dengan 32 lapangan bola. Rekor yang menjadikan benteng ini sebagai yang paling luas di dunia.
Tidak Cukup Satu Zaman
Tentu, membangun benteng seluas ini tidak cukup hanya dalam satu zaman. Namun, ada tiga generasi raja yang terlibat, di antaranya yaitu sebagai berikut:
- Sultan La Sangaji: inisiasi.
- Sultan La Elangi: konstruksi permanen.
- Sultan La Buke: penyelesaian pada tahun 1645.
Benteng bagian dalam merupakan kawasan Keraton yang menjadi pusat pemerintahan, sementara di luar tembok merupakan wilayah perkampungan masyarakat biasa.
Bagian Menarik
Bagian menariknya yaitu benteng ini dibangun tanpa semen. Jutaan balok batu gunung disusun dan dikunci menggunakan campuran kapur dan putih telur.
Perekat organik kuno itulah yang menghasilkan struktur elastis, sehingga tembok tidak mudah dihancurkan oleh siapa pun dan apa pun.
Benteng seluas ini dipagari oleh 16 pos pertahanan (Baluara) dan 12 pintu gerbang (Lawa). Mengapa gerbangnya harus berjumlah 12?
Bagi leluhur Buton, benteng ini merupakan manifestasi tubuh manusia. Dua belas gerbang melambangkan jumlah lubang pada anatomi manusia.
Baca Juga: Inilah Sosok Hakim Agung di Indonesia yang Sukses Bikin Koruptor Cabut Berkas Perkara
Pusatnya Bumi
Jika kamu berkunjung ke Masjid Agung Keraton, maka cobalah mencari satu lubang kecil yang bernama Pusatnya Bumi.
Menurut keyakinan rakyat Buton, titik inilah nyawa pertahanan mereka bahwa setiap jengkal tanah yang dipijak selalu berada dalam perlindungan semesta.
Tepat di tengah lingkungan benteng, terdapat jenis kayu jati langka yang digunakan untuk tiang bendera setinggi 21 meter.
Inilah alasan mengapa tiang kayu tersebut masih berdiri tegak tanpa lapuk meski dibangun sejak abad ke-17.
Tidak Tersentuh oleh Musuh
Dalam catatan sejarah Nusantara, Benteng Buton tercatat sebagai benteng yang tidak pernah dijajah dan tidak tersentuh oleh musuh.
Kombinasi posisi bukit, kekuatan material, serta keyakinan spiritual yang kuat inilah yang membuat pertahanan mereka tidak pernah mampu ditembus oleh musuh.
- 23 hektare batu karang.
- Tiga generasi yang membangun.
- Nol riwayat penjajahan asing.
Benteng Buton menunjukkan bahwa kedaulatan tidak selalu dimenangkan melalui darah, tetapi juga melalui kecerdikan arsitektur.
Baca Juga: Gus Dur Biarkan Bendera Kejora Berkibar sebagai Cara dalam Memanusiakan Papua

