Sekitarbandung.com – Daeng Soetigna merupakan sosok jenius asal Jawa Barat di bidang akademisi dan seni. Inovasinya yang mengubah angklung pentatonis menjadi diatonis berhasil menggema hingga ke berbagai penjuru dunia.
Hingga akhirnya, angklung diakui oleh UNESCO pada tahun 2010. Atas terobosannya tersebut, ia mendapat julukan sebagai Bapak Angklung Indonesia.
Titik Balik
Daeng Soetigna lahir di Garut pada 13 Mei 1908 dari keluarga priyayi. Dalam dirinya mengalir bakat mendidik dari sang ayah dan jiwa seni dari ibunya. Ia tumbuh sebagai seniman sekaligus pendidik dan aktif mengajar sejak tahun 1928 hingga 1964.
Perjalanan penting terjadi ketika ia pindah mengajar ke Kuningan pada tahun 1938. Kisahnya bermula saat membeli angklung bernada pentatonis dari seorang pengemis.
Ia kemudian mempelajari alat musik tersebut dan berinovasi menciptakan angklung diatonis (do-re-mi) bersama Djaja, seorang empu pembuat angklung.
Penampilan Monumental
Angklung diatonis karya Daeng kemudian dikenal luas dan tidak hanya menjadi alat musik, tetapi juga sarana perjuangan serta diplomasi pada berbagai momen penting.
1. Konferensi Asia-Afrika (1955)
- Kelompok angklung Daeng tampil menghibur para delegasi dari berbagai negara.
2. Perundingan Linggarjati (1946)
- Kelompok angklung Daeng tampil dan membantu mencairkan ketegangan antara NICA dan Republik Indonesia.
Baca Juga: 6 Jenis Angklung Jawa Barat yang Masuk ke dalam WBTb Indonesia
Angklung Diatonis Diberikan Nama Angklung Padaeng
Angklung diatonis tersebut akhirnya diberi nama Angklung Padaeng. Selain itu, Daeng juga menulis puluhan aransemen lagu untuk dimainkan dengan angklung. Setelah pensiun sebagai PNS, ia tetap aktif melatih berbagai kelompok angklung.
Berbagai apresiasi dan penghargaan pun diberikan kepada Daeng, termasuk Penghargaan Nasional Hak Kekayaan Intelektual 2013 sebagai Pencipta Angklung dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Amir Syamsudin, pada 26 April 2013.
Berkat kejeniusan Daeng, angklung kini dapat dimainkan bersama berbagai alat musik lain, bahkan dalam format orkestra.
Popularitas angklung akhirnya mendorong UNESCO mengakui alat musik tersebut sebagai warisan dunia yang wajib dilestarikan pada November 2010.
Lima M Angklung Sebagai Alat Pendidikan
- Mudah: dibandingkan alat musik lain, angklung termasuk mudah dimainkan.
- Murah: harga angklung relatif terjangkau.
- Menarik: siapa pun mudah tertarik memainkan angklung, terutama anak-anak.
- Mendidik: angklung mengajarkan kerja sama untuk menciptakan harmoni.
- Massal: permainan angklung dapat dilakukan secara bersama-sama tanpa batas.
Baca Juga: Saung Angklung Udjo Warisan Budaya Sunda yang Mendunia dari Bandung

