Sekitarbandung.com – Di balik megahnya beberapa gedung yang berdiri kokoh di sekitar Gedung Sate, terdapat cerita panjang tentang sebuah lahan kosong yang puluhan tahun terbengkalai, yakni Danau Gasibu.
Lahan di sudut Jalan Diponegoro tersebut awalnya direncanakan untuk gedung perkantoran pada era 90-an, namun akibat krisis moneter 1998, rencana yang telah disusun rapi berubah dan tidak terealisasi.
Saat itu, proyek terhenti dan menyisakan lubang fondasi raksasa sedalam belasan meter, lalu air hujan mengisi lubang tersebut selama puluhan tahun hingga membentuk ekosistem “danau” alami.
Meskipun dipagar seng dan dilarang, Danau Gasibu selama hampir 20 tahun kerap dimasuki warga sekitar secara diam-diam untuk memancing ikan mujaer secara gratis di tengah rimbunnya ilalang.
Danau buatan yang secara tidak sengaja menjadi kolam retensi di tengah kota tersebut sempat menjadi tempat kumuh bagi para tunawisma, hingga akhirnya digusur oleh Pemerintah Daerah (Pemda).
Selain itu, Danau Gasibu kini telah bertransformasi menjadi deretan gedung mewah di samping Lapangan Gasibu dan Gedung Sate yang menjadi pusat keramaian kota.
Perubahan kawasan ini pun menjadi salah satu contoh transformasi ruang kota yang secara signifikan, yaitu dari area yang terbengkalai bisa menjadi kawasan yang bernilai ekonomi tinggi.
Pada akhirnya, kini wajah baru kawasan tersebut juga turut memperkuat citra modern Kota Bandung meskipun menyimpan jejak sejarah yang panjang dan sangat kelam di balik itu semua.
Baca Juga: Tarik Uang Pensiunan Rp 16,5 Juta dari Bank, Kakek ini Justru Dirampok di Angkot Bandung

