Sekitarbandung.com – Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) selama ini dikenal sebagai ikon olahraga nasional dan simbol kebanggaan Indonesia.
Namun, sebelum stadion megah itu berdiri, kawasan Senayan, yang kini menjadi Kompleks Gelora Bung Karno, menyimpan sejarah kelam yang jarang disorot, yakni penggusuran ribuan rumah warga serta pemindahan makam leluhur.
Pembangunan kawasan Senayan untuk Kompleks GBK dimulai pada awal 1960-an sebagai bagian dari proyek besar nasional menjelang Asian Games IV 1962.
Untuk mewujudkan kawasan olahraga berskala internasional, pemerintah membutuhkan lahan yang sangat luas.
Wilayah tersebut sebelumnya merupakan permukiman warga yang telah lama menetap, lengkap dengan rumah-rumah sederhana, lahan garapan, serta pemakaman keluarga yang diwariskan turun-temurun.
Dalam proses pembebasan lahan, ribuan keluarga harus meninggalkan rumah mereka. Banyak warga dipaksa pindah dalam waktu singkat, sementara makam leluhur terpaksa dibongkar dan dipindahkan demi pembangunan stadion dan fasilitas pendukung lainnya.
Baca Juga: Keributan Suporter Indonesia vs Vietnam Memanas di GBK Usai Final AFF U-23 2025
Bagi sebagian warga, kehilangan ini bukan hanya soal tempat tinggal, tetapi juga hilangnya ikatan sejarah, identitas, dan kenangan keluarga.
Meski Kompleks GBK kemudian menjadi pusat berbagai ajang olahraga dan acara besar yang mengharumkan nama bangsa, cerita tentang warga yang tergusur kerap tenggelam di balik narasi kemajuan dan pembangunan.
Tidak sedikit dari mereka yang harus memulai hidup dari nol di tempat baru dengan kondisi ekonomi yang lebih sulit.
Kisah ini memiliki benang merah yang kuat dengan cerita Si Doel Anak Sekolahan, yang menggambarkan realitas warga kecil Jakarta yang terdesak oleh pembangunan kota.
Seperti keluarga Doel, banyak warga Senayan kala itu harus menerima kenyataan pahit kehilangan rumah demi proyek besar negara.
Fiksi Si Doel terasa begitu dekat dengan kenyataan, karena lahir dari sejarah nyata tentang penggusuran dan perjuangan rakyat kecil di tengah laju pembangunan ibu kota.
Baca Juga: Bermain di Stadion GBK, Indonesia Tahan Imbang Australia. Maarten Paes jadi Juru Selamat

