Diabadikan Jadi Kawasan Mewah, Padahal Pemilik Nama M. H. Thamrin Gugur Sebagai Tahanan Rumah

Sekitarbandung.com – Siapa yang tidak tahu Jalan M. H. Thamrin? Kawasan ini merupakan Central Business District (CBD) paling elit di Jakarta, tempat berdirinya Bundaran HI,

Dicky Wicaksono

Diabadikan Jadi Kawasan Mewah, Padahal Pemilik Nama M. H. Thamrin Gugur Sebagai Tahanan Rumah
Diabadikan Jadi Kawasan Mewah, Padahal Pemilik Nama M. H. Thamrin Gugur Sebagai Tahanan Rumah

Sekitarbandung.com – Siapa yang tidak tahu Jalan M. H. Thamrin? Kawasan ini merupakan Central Business District (CBD) paling elit di Jakarta, tempat berdirinya Bundaran HI, Sarinah, hingga gedung-gedung bernilai triliunan rupiah.

Namun, pernahkah kamu mencari tahu siapa sosok Mohammad Husni Thamrin yang namanya diabadikan di atas salah satu ruas jalan paling bergengsi di Indonesia ini?

M.H. Thamrin bukan orang sembarangan. Ia adalah “Anak Betawi” tulen kelahiran Sawah Besar yang berasal dari keluarga elit dan sangat kaya raya.

Kakeknya orang Inggris, ayahnya pejabat daerah. Dengan privilege sebesar itu, ia bisa saja hidup foya-foya dan aman menjilat Belanda. Namun, ia justru memilih jalan yang berbahaya.

Meski berdandan necis bak bangsawan Eropa dan duduk di dewan kota (Volksraad), hati Thamrin tetap berpihak pada kampung-kampung kumuh Batavia.

Saat pemerintah kolonial hanya membangun fasilitas mewah untuk orang kulit putih, Thamrin bersuara keras di parlemen.

Ia memaksa Belanda menjalankan Kampong Verbetering (Proyek Perbaikan Kampung) agar rakyat pribumi memiliki sanitasi, jalan, dan air bersih yang layak.

Thamrin dikenal sebagai politisi yang sabar dan cerdik. Ia menggunakan uang pribadinya yang melimpah untuk mendanai pergerakan nasional.

Baca Juga: K.H. As’ad Humam Putus Sekolah dan Fisik Tak Sempurna, tetapi Karya Buku Iqro Selamatkan Jutaan Umat dari Buta Huruf

Ia bahkan membeli gedung besar di Kramat Raya untuk dijadikan markas pemuda yang kelak menjadi lokasi Sumpah Pemuda. Belanda mulai menyadari bahwa pria Betawi ini adalah ancaman terbesar dari dalam sistem.

Pada Januari 1941, Belanda akhirnya mencari alasan untuk menghancurkan Thamrin. Ia dituduh bekerja sama dengan Jepang. Rumah mewahnya digeledah, dan ia dijadikan tahanan rumah dalam kondisi sakit parah.

Belanda dengan kejam melarang dokter pribadinya datang untuk merawat. Tidak satu pun teman diizinkan menjenguknya.

Hanya berselang lima hari setelah ditahan dan dibiarkan tanpa perawatan medis yang layak, pahlawan besar warga Betawi ini mengembuskan napas terakhir pada 11 Januari 1941.

Kematiannya memicu kemarahan luar biasa. Puluhan ribu rakyat Batavia tumpah ruah ke jalanan untuk mengantarkan jenazahnya ke Karet Bivak. Belanda panik melihat betapa dicintainya sosok tersebut.

Kini, setiap kali kita melintasi kemegahan Jalan M.H. Thamrin, ingatlah satu hal bahwa di balik aspal yang megah itu terdapat nama seorang pejuang.

Pejuang yang memilih meninggalkan zona nyaman dan harta melimpah demi memastikan rakyat kecil di gang sempit memiliki harga diri.

Hormat untuk Sang Kaisar Betawi.

Baca Juga: Sembunyikan Dokumen di Kaos Kaki, Aksi Nekat Abdurrahman Baswedan Berhasil Selamatkan Status Kemerdekaan Indonesia

Related Post

Tinggalkan komentar