sekitarBANDUNGcom — Apakah negara sekuat Amerika Serikat (AS) benar-benar bisa bangkrut? Pertanyaan ini mendadak menjadi bahan perbincangan publik setelah tokoh teknologi dunia, Elon Musk, mengeluarkan pernyataan kontroversial yang menyebut AS sedang bergerak cepat menuju kebangkrutan.
Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Melalui akun X miliknya (sebelumnya Twitter), bos Tesla dan SpaceX itu menyoroti peningkatan tajam defisit anggaran pemerintah AS, yang diproyeksikan akan membengkak dalam dekade mendatang. Lantas, seberapa serius sebenarnya ancaman kebangkrutan bagi Amerika Serikat? Dan apa dampaknya bagi ekonomi global?
Elon Musk dan Kritik Terhadap Kebijakan Fiskal AS
Elon Musk membagikan sebuah unggahan dari seorang pengguna X yang memuat grafik proyeksi defisit anggaran pemerintah AS. Grafik tersebut bersumber dari laporan fiskal resmi yang menunjukkan bahwa defisit anggaran tahunan bisa melonjak dari USD 1,8 triliun (2025) menjadi hampir USD 16,3 triliun pada 2035 jika pola pengeluaran tidak dikendalikan.
“Dengan tingkat pengeluaran pemerintah saat ini, Amerika berada di jalur cepat menuju kebangkrutan,” tulis Musk, dikutip dari Russia Today pada Senin(2/9/2024).
Sebagai seorang miliarder sekaligus pengusaha teknologi ternama, Musk dikenal vokal terhadap berbagai isu kebijakan, termasuk soal ekonomi dan utang negara. Komentarnya kali ini kembali memancing perhatian luas, mengingat statusnya sebagai tokoh berpengaruh dalam dunia bisnis dan teknologi global.
Benarkah Amerika Bisa Bangkrut?
Secara teknis, negara seperti Amerika Serikat tidak bisa bangkrut seperti perusahaan atau individu. AS memiliki kendali atas mata uangnya sendiri (dolar AS) dan dapat mencetak uang untuk membayar utangnya, berbeda dengan negara yang mengandalkan mata uang asing.
Namun demikian, beban utang yang terus membengkak bisa menciptakan risiko jangka panjang, seperti:
- Inflasi yang tidak terkendali
- Kenaikan suku bunga
- Melemahnya nilai tukar dolar
- Menurunnya kepercayaan investor global terhadap obligasi pemerintah AS
Menurut data dari Congressional Budget Office (CBO), defisit anggaran AS terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah pandemi COVID-19 yang memaksa pemerintah melakukan stimulus ekonomi besar-besaran. Utang publik AS saat ini telah menembus angka lebih dari USD 34 triliun pada pertengahan 2024.
Baca Juga : Weekend Banking BCA Bandung 2025 dan Cabang Lain yang Buka Sabtu-Minggu
Dampak Potensial bagi Dunia
Karena dolar AS merupakan mata uang cadangan global, segala gejolak dalam sistem fiskal Amerika akan berdampak besar ke seluruh dunia, termasuk negara berkembang seperti Indonesia.
Beberapa dampak potensial jika krisis fiskal AS tak terelakkan:
- Pasar saham global bisa mengalami guncangan
- Harga komoditas (seperti emas dan minyak) melonjak tajam
- Nilai tukar rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya bisa melemah drastis
- Dana investasi asing berisiko kabur dari pasar negara berkembang
Apa Kata Para Ekonom?
Sejumlah ekonom memang mengakui kekhawatiran Musk tidak sepenuhnya tanpa dasar. Namun, mereka juga menyebut bahwa proyeksi defisit harus dilihat secara hati-hati dan tidak selalu mencerminkan bencana yang akan terjadi.
“Selama ekonomi tumbuh dan pemerintah mampu menjaga rasio utang terhadap PDB dalam level yang stabil, krisis besar bisa dihindari,” ujar ekonom Paul Krugman dalam kolom opini New York Times (Agustus 2024).
Sementara itu, mantan Menteri Keuangan AS, Larry Summers, mengatakan bahwa kedisiplinan fiskal harus menjadi agenda utama pemerintahan berikutnya untuk mencegah ledakan utang jangka panjang.
Bagaimana Sikap Pemerintah AS?
Pemerintah AS di bawah Presiden Joe Biden telah berulang kali menegaskan bahwa langkah pengeluaran besar-besaran—termasuk dalam bentuk subsidi energi hijau dan infrastruktur—adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk menumbuhkan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja.
Namun, tekanan dari kalangan oposisi di Kongres membuat pembahasan soal anggaran menjadi sangat politis. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, AS sempat mengalami government shutdown atau penutupan layanan publik karena sengketa terkait plafon utang.
Peringatan atau Kepanikan?
Pernyataan Elon Musk bahwa AS sedang bergerak menuju kebangkrutan memang terdengar dramatis, namun ia menjadi pengingat penting bahwa disiplin fiskal tetap krusial, bahkan bagi negara adidaya seperti Amerika Serikat.
Meski tidak berarti bangkrut dalam arti harfiah, lonjakan utang dan defisit bisa membatasi ruang gerak pemerintah, memicu ketidakstabilan ekonomi, dan berdampak global.
Bagi masyarakat dunia, termasuk Indonesia, penting untuk mulai memahami dinamika fiskal global. Krisis fiskal AS bukan hanya persoalan internal negeri Paman Sam—ia bisa menjadi badai ekonomi global berikutnya.
Baca Juga : Event Jawa Barat Juli 2025: Jadwal Lengkap Festival dan Acara Terbaik

