Sekitarbandung.com – Predikat Kota Bandung sebagai kota termacet di Indonesia kembali menjadi sorotan setelah data TomTom Traffic Index 2025 menunjukkan tingkat kemacetan di Bandung mencapai sekitar 64,1 persen, mengalahkan Jakarta dalam daftar tersebut.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menanggapi predikat itu secara terbuka. Ia tidak menampik bahwa kondisi lalu lintas di Kota Bandung memang masih menjadi permasalahan serius yang harus dipecahkan bersama.
“Saya kira itu merupakan sebuah tantangan untuk kita menunjukkan bahwa penanganan masalah lalu lintas di Kota Bandung ini masih memang belum tuntas,” kata Farhan saat memberikan komentarnya terkait data tersebut.
Farhan menjelaskan bahwa pemerintah kota sedang menyiapkan berbagai solusi infrastruktur dan teknologi untuk mengurai kemacetan.
Salah satunya adalah rencana penyempurnaan sistem lampu lalu lintas berbasis kecerdasan buatan (AI) melalui Automatic Traffic Control System (ATCS) agar pengaturan arus lebih responsif terhadap kondisi nyata di jalan.
Selain itu, Farhan menyebut Pemkot Bandung juga terus menyiapkan pengembangan angkutan massal untuk memperbaiki mobilitas warga.
Baca Juga: Tol Jakarta-Bandung Dibuka Gratis Saat Lebaran 2026, Waktu Tempuh Diklaim Lebih Singkat
Dia menyampaikan harapannya agar program Trans Metro Pajajaran dari Dinas Perhubungan Jawa Barat dapat segera dirilis, sekaligus meninjau ulang trayek angkutan kota yang bisa difungsikan sebagai feeder untuk Bus Rapid Transit (BRT).
Farhan mengungkapkan bahwa pengembangan Bus Rapid Transit (BRT) serta kemungkinan pembangunan LRT jalur Utara-Selatan saat ini tengah dibahas bersama pihak terkait.
Pembahasan tersebut melibatkan pemerintah pusat dan Kementerian Perhubungan sebagai bagian dari upaya jangka panjang untuk mengatasi persoalan kemacetan.
Menurut data TomTom Traffic Index, Bandung berada di urutan ke-16 sebagai kota termacet di dunia, dengan waktu tempuh rata-rata mencapai lebih dari 32 menit untuk perjalanan 10 kilometer, dan kecepatan kendaraan pada jam sibuk kurang dari 17 km per jam.
Farhan menyatakan bahwa data kemacetan ini harus dijadikan “alarm” untuk mempercepat penanganan lalu lintas di Kota Bandung, baik melalui teknologi, transportasi massal, maupun perbaikan infrastruktur jalan secara menyeluruh.
Meski tantangan masih besar, Farhan menegaskan komitmennya untuk terus mencari solusi yang efektif agar waktu tempuh perjalanan di Bandung menjadi lebih efisien dan masyarakat tidak lagi mengalami kemacetan parah sebagai bagian dari kualitas hidup kota.
Baca Juga: Polisi di Bandung Terapkan Tilang Pakai HP, Surat Langsung Dicetak di Tempat

