Sekitarbandung.com – Aktivitas gempa bumi dari Sesar Lembang jadi perhatian serius masyarakat Kabupaten Bandung Barat. Dalam sepekan terakhir, getaran dengan kekuatan kecil namun berulang mengguncang beberapa wilayah. Meski tak menimbulkan kerusakan, frekuensi yang meningkat menambah kekhawatiran warga di daerah rawan.
Kepala Pelaksana BPBD Bandung Barat, Meidi, mengatakan hingga kini daerahnya belum memiliki sistem peringatan dini bencana atau early warning system (EWS) secara mandiri. Seluruh perangkat deteksi gempa masih mengandalkan milik BMKG. Kondisi ini dinilainya rentan, terutama bagi wilayah dengan risiko tinggi.
“EWS di Bandung Barat belum ada. Semua informasi bergantung dari BMKG. Padahal, 16 kecamatan masuk kategori rawan bencana,” ujarnya, Senin 25 Agustus 2025.
Menurut perhitungan BPBD, kebutuhan anggaran untuk membangun sistem EWS di seluruh kecamatan mencapai Rp 4,5 miliar hingga Rp 5 miliar. Namun hingga kini, pemerintah daerah belum memiliki alokasi untuk program itu. Pihaknya kini tengah mengajukan bantuan ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat. “Proposal sudah kami sampaikan ke Pemprov Jabar. Prosesnya sedang berjalan. Kami harap bisa segera terealisasi,” kata Meidi.
Ia menegaskan, keberadaan sistem deteksi dini di wilayah Cekungan Bandung tak bisa ditunda lagi. Mengingat Sesar Lembang membentang di jalur padat penduduk, potensi dampaknya bisa meluas bila gempa besar terjadi.
Baca juga : Bandung Waspada Sesar Lembang, Ini 6 Lokasi Evakuasi Aman
Selain mengajukan pengadaan alat, BPBD Bandung Barat juga meningkatkan kesiapsiagaan internal. Koordinasi rutin dengan Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung dilakukan setiap hari.
Di sisi lain, pemetaan daerah rawan gempa juga diperbarui. Beberapa desa kategori paling berisiko antara lain Desa Ciledug di Kecamatan Rongga, Desa Cibenda di Kecamatan Cipongkor, dan sejumlah desa di Kecamatan Lembang.
Jika ingin update tentang hal di sekitar Bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

