Sekitarbandung.com – Di Jepang, ada generasi yang dikenal dengan sebutan “The Lost Generation” atau “Ice Age Generation”. Mereka adalah generasi yang kehidupannya terdampak besar akibat krisis ekonomi.
Saat mereka lulus, gelembung ekonomi Jepang sedang meledak. Perusahaan panik, sistem “kerja seumur hidup” dibatalkan, dan lowongan pekerjaan ditutup rapat-rapat.
Akibatnya, banyak sarjana muda terpaksa menjadi freeter (pekerja paruh waktu) atau pegawai kontrak tanpa jaminan masa depan dan tanpa tunjangan yang memadai.
Di budaya Jepang yang sangat kaku, identitas dan harga diri seseorang sering kali dinilai dari status pekerjaan tetap yang dimiliki. Pengangguran dianggap sebagai aib yang besar.
Tekanan sosial ini melahirkan fenomena hikikomori. Ratusan ribu anak muda memilih mengurung diri di kamar selama bertahun-tahun karena merasa gagal dan malu.
Sebagian lainnya dikenal sebagai parasite singles. Karena gaji yang terlalu kecil, mereka terpaksa menumpang hidup di rumah orang tua hingga usia 40 tahunan.
Baca Juga: Dua Orang Utan Indonesia Jadi Bintang Perangko di Jepang
Dampaknya terhadap negara sangat besar. Merasa miskin dan memiliki masa depan yang tidak stabil, banyak dari generasi ini menolak untuk menikah. Angka kelahiran Jepang pun mengalami penurunan drastis.
Sekarang, mereka sudah berusia 40 hingga 50-an. Tabungan pensiun mereka minim, sementara beban hidup bertambah karena harus merawat orang tua yang sudah lanjut usia.
Pemerintah Jepang kini berupaya memberikan subsidi dan pelatihan agar mereka mendapatkan pekerjaan tetap. Namun, banyak pihak menilai bantuan tersebut datang terlambat setelah masalah berlangsung selama puluhan tahun.
Tragedi ini menjadi bukti bahwa krisis ekonomi dapat menghancurkan masa depan satu generasi, sehingga langkah pemerintah dalam mengatasinya menjadi faktor yang sangat krusial.
Baca Juga: 9 Generasi Pembentuk Kehidupan Modern Kita, dari Veteran ke Bocil TikTok!

