sekitarbandung.com – Gerakan Sapoe Sarebu Bandung kembali menjadi sorotan publik setelah Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif warga yang mengajak masyarakat untuk menyisihkan Rp1.000 per hari.
Langkah sederhana ini dianggap sebagai gerakan sosial yang mampu menghidupkan kembali budaya gotong royong dan semangat zakat di Kota Bandung.
Apa Itu Gerakan Sapoe Sarebu Bandung?
Gerakan Sapoe Sarebu Bandung merupakan ajakan masyarakat untuk berkontribusi kecil namun rutin—menyisihkan seribu rupiah setiap hari untuk membantu sesama. Menurut Erwin, meski nilainya tampak kecil, dampak sosialnya bisa besar jika dilakukan secara konsisten.
“Gerakan ini bagus karena menjadi pengingat untuk berbagi. Tapi kita harus ingat, dalam Islam ada kewajiban zakat sebesar 2,5 persen dari penghasilan,” kata Erwin di Balai Kota Bandung, Rabu (8/10/2025).
Erwin menegaskan, esensi zakat bukan sekadar sedekah kecil, melainkan kewajiban yang dapat menjaga keseimbangan sosial dan mengentaskan kemiskinan di perkotaan.
Baca Juga: Bandung Macet Akhir Pekan Ini 11–12 Oktober 2025, Persibday Festival dan Pameran Padati Kota
Gerakan Sapoe Sarebu Bandung Dorong Kesadaran Zakat
Menurut Erwin, jika semangat Gerakan Sapoe Sarebu Bandung dikembangkan menjadi kesadaran kolektif untuk menunaikan zakat, potensi dana sosial di Bandung bisa sangat besar. Dana tersebut bisa digunakan untuk mendukung program kesejahteraan masyarakat dan pemberdayaan ekonomi warga kecil.
“Kalau semua warga Bandung menunaikan zakat 2,5 persen, dana yang terkumpul bisa membantu ribuan warga miskin. Ini bukan hanya ajakan sedekah, tapi gerakan ekonomi sosial,” jelasnya.
Dengan potensi zakat yang tinggi, Bandung bisa menjadi contoh kota dengan sistem distribusi sosial yang adil dan transparan.
Transparansi dan Pengawasan Dana
Meski mendukung penuh Gerakan Sapoe Sarebu Bandung, Erwin menyoroti pentingnya sistem pengawasan dana yang ketat. Ia menilai bahwa pengelolaan uang publik harus dilakukan dengan transparan dan akuntabel agar kepercayaan masyarakat terjaga.
“Setiap kebijakan yang menyangkut uang publik harus diawasi dengan baik. Mulai dari pengumpulan hingga penyalurannya harus jelas,” tegas Erwin.
Ia pun mendorong agar gerakan ini bekerja sama dengan lembaga zakat resmi, seperti Baznas Kota Bandung, agar dana bisa tersalurkan dengan aman dan tepat sasaran.
Gotong Royong dan Empati Sosial
Bagi Erwin, inti dari Gerakan Sapoe Sarebu Bandung adalah membangkitkan kembali empati sosial di tengah masyarakat urban. Ia menyebut gerakan ini sebagai panggeuing — pengingat moral agar warga Bandung tidak kehilangan semangat kebersamaan.
“Ajakan berbagi tidak perlu ditolak. Ini soal membangun rasa peduli dan memperkuat gotong royong,” ujar Erwin.
Ia juga berbagi pengalaman pribadinya dalam menunaikan sedekah rutin. “Kalau kita merasa cukup, sudah seharusnya berbagi. Itu cara paling nyata bersyukur,” tambahnya.
Sinergi Pemerintah dan Masyarakat
Pemerintah Kota Bandung berharap, dengan adanya Gerakan Sapoe Sarebu Bandung, kesadaran sosial masyarakat semakin meningkat. Kolaborasi antara warga, lembaga zakat, dan pemerintah diyakini bisa mempercepat pemerataan ekonomi.
Erwin menilai, Bandung berpotensi menjadi kota percontohan zakat kolektif nasional, jika gerakan ini dikelola secara profesional dan berkelanjutan.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai program zakat dan pengelolaan dana sosial di Bandung, masyarakat dapat mengunjungi situs resmi Baznas Kota Bandung.
Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

