sekitarbandung.com – Bayangkan, zakat yang kita keluarkan bukan hanya membantu fakir miskin, tapi juga ikut menjaga bumi agar tetap lestari. Itulah ide besar di balik peluncuran Green Zakat Framework BSI pada 27 Agustus 2025.
Lewat program ini, Bank Syariah Indonesia (BSI) ingin mengubah paradigma zakat menjadi instrumen yang lebih luas: membantu umat sekaligus melestarikan lingkungan.
Kenapa Disebut Green Zakat?
“Hijau” di sini bukan sekadar warna, melainkan filosofi keberlanjutan. Green Zakat Framework BSI menggabungkan konsep ibadah zakat dengan aksi nyata peduli lingkungan.
Artinya, dana zakat tidak hanya berhenti di distribusi sosial, tapi juga diarahkan ke:
-
Program energi terbarukan.
-
Konservasi alam dan laut.
-
Pembangunan rumah ramah lingkungan.
-
Pengelolaan sampah terpadu.
Sebagai perbandingan, program sejenis di dunia internasional juga tengah dikaji oleh lembaga seperti UNDP Indonesia yang berfokus pada pembangunan berkelanjutan.
Baca Juga: Investasi Aman dan Menguntungkan, bank bjb Hadirkan Sukuk Ritel SR023 dengan Imbal Hasil Menarik
Potensi Raksasa: Rp327 Triliun
Indonesia memiliki potensi zakat hingga Rp327 triliun per tahun. Namun, angka yang benar-benar terhimpun masih jauh lebih kecil.
BSI percaya, lewat Green Zakat Framework, kesadaran masyarakat untuk berzakat akan meningkat. Sebab, mereka tahu zakatnya tak hanya menolong sesama, tapi juga ikut berperan dalam menjaga masa depan bumi.
Jejak Nyata BSI
Tidak berhenti pada konsep, BSI sudah lebih dulu menjalankan pembiayaan berkelanjutan. Hingga pertengahan 2025, tercatat:
-
Rp72,8 triliun dialokasikan untuk pembiayaan hijau dan sosial.
-
Rp15,3 triliun khusus untuk green financing, termasuk pendanaan energi bersih dan kendaraan listrik.
-
Rp57,5 triliun untuk social financing, menyentuh sektor pendidikan, kesehatan, dan UMKM.
Selain itu, BSI juga meluncurkan program One Home One Tree, pembangunan charging station, hingga penggunaan kendaraan listrik operasional.
Dampak Sosial yang Nyata
Hingga Mei 2025, BSI sudah menyalurkan zakat sebesar Rp65,6 miliar. Dana tersebut menyentuh lima bidang utama: ekonomi, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, serta dakwah.
Lebih dari 240 ribu penerima manfaat telah terbantu. Ada program Desa BSI, BSI Scholarship, hingga Sentra UMKM yang membuat zakat benar-benar terasa manfaatnya.
Menurut BAZNAS, optimalisasi zakat nasional juga sejalan dengan tujuan pemberdayaan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan di berbagai wilayah.
Kolaborasi Internasional
Peluncuran Green Zakat Framework bukanlah langkah tunggal. Acara ini juga diwarnai diskusi panel bertema “Institutionalizing Green Zakat and Green Waqf: Turning Ethical Finance into Environmental Action”.
Topiknya menyoroti tiga hal penting:
-
Transparansi pengelolaan zakat.
-
Dampak yang bisa diukur.
-
Keberlanjutan jangka panjang.
Kerja sama lintas sektor, mulai dari pemerintah, lembaga keagamaan, hingga masyarakat sipil, menjadi kunci agar Green Zakat benar-benar memberi efek positif bagi dunia.
Dengan lahirnya Green Zakat Framework BSI, zakat kini punya dimensi baru. Dari sekadar kewajiban ibadah, zakat naik kelas menjadi alat perubahan sosial-ekonomi dan lingkungan.
Jika potensi Rp327 triliun benar-benar terkelola optimal, Indonesia bisa menjadi pelopor global dalam pengelolaan zakat berkelanjutan. Zakat bukan hanya soal menunaikan kewajiban, tapi juga investasi untuk masa depan bumi.
Jika ingin update tentang hal di sekitar Bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

