Hanya karena Rambut Sebahu, Ribuan Pemuda Ditangkap Militer dan Dihakimi Layaknya Teroris

Sekitarbandung.com – Memasuki dekade 1970-an, budaya Hippie dan musik Rock n Roll mewabah di Indonesia. Pemuda di kota-kota besar mulai memanjangkan rambut layaknya The Beatles.

Dicky Wicaksono

Hanya karena Rambut Sebahu, Ribuan Pemuda Ditangkap Militer dan Dihakimi Layaknya Teroris
Hanya karena Rambut Sebahu, Ribuan Pemuda Ditangkap Militer dan Dihakimi Layaknya Teroris

Sekitarbandung.com – Memasuki dekade 1970-an, budaya Hippie dan musik Rock n Roll mewabah di Indonesia. Pemuda di kota-kota besar mulai memanjangkan rambut layaknya The Beatles.

Namun bagi rezim Orde Baru yang sangat militeristik, rambut gondrong bukan sekadar gaya busana.

Pemerintah mencapnya sebagai simbol pemberontakan, kemalasan, dan bibit-bibit subversif yang bisa meruntuhkan wibawa negara. Gaya rambut tiba-tiba berubah menjadi urusan keamanan nasional.

Kepanikan negara ini bukan hanya sekadar imbauan di atas kertas. Panglima Kopkamtib, Jenderal Soemitro, sampai harus turun tangan mengeluarkan instruksi khusus.

Bahkan pada tahun 1973, dibentuk sebuah lembaga negara yang sangat absurd, Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong (Bakoperagon). Militer dan polisi resmi diberi mandat untuk memburu folikel rambut warganya.

Jalanan kota-kota besar seketika berubah menjadi arena razia. Aparat militer bersenjata lengkap menyetop bus, masuk ke sekolah, hingga ke dalam pasar. Pemuda yang kedapatan berambut gondrong diseret ke pinggir jalan.

Di hadapan tontonan warga, rambut mereka dipotong paksa secara asal-asalan. Terkadang bukan menggunakan gunting potong rambut, melainkan gunting rumput atau pisau tumpul yang membuat kulit kepala mereka terluka.

Siksaan bagi kaum gondrong tidak berhenti di jalanan. Negara melakukan diskriminasi sistematis yang mencekik hajat hidup mereka. Pria gondrong dilarang membuat KTP, mengurus SIM, dan masuk ke instansi pemerintahan.

Baca Juga: Melokal, Pelatih Timnas Indonesia Bermain Sepak Bola di Pantai Bersama Para Pemuda

Stasiun televisi satu-satunya saat itu, TVRI, mengharamkan artis berambut panjang. Banyak musisi dan seniman yang kehilangan mata pencaharian hanya karena menolak menyeragamkan gaya rambut mereka.

Peraturan irasional ini tidak pandang bulu, bahkan kepada pahlawan olahraga. Timnas Sepak Bola Indonesia pernah nyaris gagal bertanding di luar negeri karena beberapa pemain intinya berambut gondrong dan tidak bisa membuat paspor.

Ronny Pattinasarany hingga Iswadi Idris dipaksa memangkas rambut mereka jika masih ingin membela lambang Garuda di dada. Bela negara ternyata diukur dari berapa sentimeter jarak rambut ke kerah baju.

Razia ini tidak jarang berujung pada kebrutalan dan pertumpahan darah. Di Bandung, seorang pemuda bernama Rene Louis Conrad tewas dikeroyok aparat setelah terjadi perselisihan dalam razia rambut.

Kasus ini memicu demonstrasi besar-besaran mahasiswa Institut Teknologi Bandung. Sebuah nyawa anak bangsa harus melayang sia-sia di tangan aparat, hanya karena negara merasa berhak mengatur mahkota di kepalanya.

Sejarah mencatat operasi ini sebagai salah satu wujud paranoia tertinggi sebuah rezim. Negara maju berlomba mengirim manusia ke bulan.

Namun, pemerintah kita justru menghabiskan anggaran dan energi militernya hanya untuk merazia rambut pemuda di perempatan jalan.

Dan inilah ironi yang paling menampar nalar sejarah, yaitu negara begitu sibuk memangkas habis rambut warganya, namun membiarkan akar korupsi tumbuh subur dan gondrong di dalam pemerintahan.

Baca Juga: Push Rank Iman, Para Pemuda Indonesia dan Malaysia di Yaman Ini Tuntaskan Salat Tarawih 100 Rakaat dalam Satu Malam

Related Post

Tinggalkan komentar