Sekitarbandung.com – Menurut laporan dari CrocAttack, lebih dari 1.000 serangan buaya terjadi di Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun terakhir yang menyebabkan 486 orang meninggal dunia.
Dari 1.000 serangan tersebut, Bangka Belitung menjadi salah satu dari tiga provinsi dengan jumlah serangan tertinggi, bersama Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kalimantan Timur.
Konflik antara buaya dan manusia telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah Bangka dan Belitung. Jarig Cornelis Mollema dalam Gedenkboek Billiton 1852-1927 bahkan menyebut,
“Tidak ada satu tahun pun berlalu tanpa ada orang yang menjadi korban.”
Franz Epp, dokter asal Jerman yang menjadi perwira korps medis pada abad ke-19, juga mencatat pengalamannya selama 10 tahun bertugas di Hindia Belanda.
Baca Juga: 6 Kota Indonesia yang Masuk Daftar Kota dengan Makanan Terbaik, Bandung Salah Satunya!
Pada Juli 1836, Epp memimpin sebuah rumah sakit kecil di Baturusa, Merawang, tidak jauh dari Pangkalpinang; saat itu wilayah tersebut masih berupa rawa yang dipenuhi buaya.
Selama bertugas di Bangka, ia menilai bahwa pembangunan ekonomi dan pertumbuhan penduduk telah membahayakan hutan serta satwa liar.
Akibat rusaknya habitat, buaya semakin sering muncul ke permukaan dan dianggap sebagai ancaman. Ketika serangan terjadi, tidak jarang masyarakat akan memburu buaya sebagai bentuk respons.
Dari total 154 kasus yang diteliti, sebanyak 31 persen konflik antara buaya dan manusia berkaitan dengan aktivitas tambang timah, sehingga menunjukkan adanya hubungan antara eksploitasi lingkungan dengan meningkatnya potensi serangan.
Baca Juga: Di Indonesia Punya THR, Kalau di Negara Lain Punya atau Tidak?

