sekitarBANDUNGcom – Jumat siang di Bandung, hiruk pikuk kota mulai terasa menjelang akhir pekan. Baik di Stasiun Bandung yang padat, pusat perbelanjaan di sepanjang Jalan Cihampelas, maupun kafe-kafe estetik di kawasan Dago, keramaian sering kali membuat kita lengah. Namun, di tengah suasana ‘Paris van Java’ yang memikat, ada mata-mata tersembunyi yang tidak memilih korban secara acak.
Para pelaku kejahatan jalanan, seperti pencopet atau pencuri tas, beroperasi dengan pola. Mereka adalah oportunis ulung yang secara aktif mencari target termudah. Mereka mengamati gerak-gerik, bahasa tubuh, dan kebiasaan kita untuk menemukan celah keamanan yang bisa dimanfaatkan dalam hitungan detik. Tanpa kita sadari, beberapa kebiasaan sepele bisa membuat kita masuk dalam radar mereka.
Baca juga – Sindikat Curanmor di Bandung Barat Dibongkar, Ratusan Motor Dikanibal
Artikel ini akan mengupas tuntas tujuh tipe orang yang paling sering menjadi sasaran empuk para pencuri di tempat umum, berdasarkan pengamatan dan analisis tren kejahatan. Cermati baik-baik, apakah Anda salah satunya?
1. Si Sibuk dengan Gawai
Tipe ini sangat mudah dikenali: kepala menunduk, mata terpaku pada layar ponsel, dan jari lincah menari di atasnya. Entah untuk membalas pesan, mencari rute di peta digital, atau sekadar scrolling media sosial sambil berjalan. Dari sudut pandang pencuri, orang seperti ini adalah target ideal. Tingkat kesadaran mereka terhadap lingkungan sekitar hampir nol, memberikan peluang emas bagi pelaku untuk mendekat dan mengambil barang berharga dari tas atau saku tanpa disadari.
2. Si Pamer Kemewahan
Secara sadar atau tidak, sebagian orang kerap memamerkan barang berharga yang mereka miliki. Ponsel seri terbaru diletakkan begitu saja di atas meja kafe, dompet tebal dikeluarkan saat membayar di kasir, atau perhiasan mencolok yang berkilauan di bawah lampu. Perilaku ini seolah “mengiklankan” diri kepada pencuri, memberitahu mereka bahwa ada barang bernilai tinggi yang bisa diambil. Bagi pelaku, target ini menjanjikan hasil yang sepadan dengan risikonya.
3. Si Repot Bawa Banyak Barang
Bayangkan seseorang yang baru selesai berbelanja, menenteng beberapa kantong di kedua tangan, sambil berusaha menjawab panggilan telepon. Perhatian mereka jelas terpecah. Kondisi kewalahan seperti ini adalah undangan terbuka bagi pencuri. Fokus yang terbagi membuat celah keamanan terbuka lebar, seperti ritsleting tas yang tidak tertutup sempurna atau barang bawaan yang diletakkan sejenak tanpa pengawasan.
4. Si Peletak Tas Sembarangan
Ini adalah salah satu kebiasaan paling berisiko namun paling sering dilakukan. Menggantung tas di sandaran kursi kafe atau meletakkannya di lantai di samping kaki, terutama di tempat yang ramai, sama saja dengan menyerahkan barang Anda. Tas tersebut berada di luar jangkauan pandang dan sentuhan langsung, menjadikannya target yang sangat mudah untuk diambil atau dirogoh isinya tanpa menimbulkan kecurigaan.
5. Si Pendengar Musik Total
Menggunakan headphone atau earphone dengan volume kencang memang cara ampuh untuk menikmati musik atau podcast. Namun, di ruang publik, hal tersebut mematikan salah satu sistem peringatan alami kita: pendengaran. Seseorang yang terisolasi dari suara sekitar tidak akan menyadari suara langkah kaki yang mengikutinya, gesekan ritsleting tas yang dibuka, atau bisikan komplotan pelaku yang beroperasi di dekatnya.
6. Si Penyimpan di Saku Belakang
Ini adalah kebiasaan klasik yang menjadi favorit para pencopet dari generasi ke generasi. Menaruh dompet atau ponsel di saku belakang celana adalah kesalahan fatal. Area tersebut adalah titik buta yang paling mudah diakses oleh tangan-tangan jahil di tengah kerumunan, sering kali tanpa perlu melakukan kontak fisik yang kentara sehingga korban baru sadar jauh setelah kejadian.
7. Si Wisatawan yang Kebingungan
Bandung adalah destinasi populer bagi wisatawan. Sayangnya, mereka yang terlihat bingung saat berada di terminal, stasiun, atau mencari rute angkot, sering kali menjadi target. Keterasingan dan kebingungan mereka menunjukkan kerentanan. Mereka mudah menjadi sasaran modus pengalihan perhatian, penipuan, atau pencurian langsung karena dianggap tidak mengenal medan dan tidak tahu harus melapor ke mana.
Pandangan mengenai pemilihan target ini diperkuat dari sudut pandang akademis. Kriminolog dari Universitas Indonesia, Dr. Dra. Iqrak Sulhin, S.Sos., M.Si., dalam berbagai kesempatan di media, kerap menjelaskan psikologi pelaku kejahatan jalanan. Menurutnya, faktor kelengahan korban adalah kunci utama.
“Pelaku kejahatan jalanan, seperti copet, itu paling senang dengan target yang lengah,” jelasnya, seperti dikutip dari pemberitaan Kompas.id. “Karena orang yang lengah itu tidak akan melakukan perlawanan dan cenderung tidak sadar saat barangnya diambil. Mereka cari yang paling mudah.”
Lalu, bagaimana cara agar kita tidak termasuk dalam salah satu dari tujuh tipe tersebut? Kuncinya adalah mengubah kebiasaan dan meningkatkan kesadaran situasional. Posisikan barang bawaan selalu di depan tubuh dan dalam jangkauan pandang. Hindari mengeluarkan barang berharga jika tidak perlu. Kurangi distraksi dari gawai saat berjalan di keramaian.
Pada akhirnya, menjadi waspada bukan berarti harus hidup dalam ketakutan. Ini adalah bentuk kecerdasan dan penghormatan pada diri sendiri. Dengan mengenali potensi risiko dan menutup celah keamanan, kita justru bisa menikmati setiap sudut Kota Bandung dengan lebih tenang dan aman.
Baca juga – Tambang Ilegal di Bandung Barat Akan Disapu Bersih!

