Pentingnya pembelajaran berbasis pengalaman seperti ini juga ditekankan oleh para ahli. Psikolog Anak dan Keluarga, Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psikolog, dalam sebuah wawancara dengan Kompas.com, menyoroti bagaimana pengalaman langsung jauh lebih efektif bagi anak.”Dengan mengalami langsung, anak akan lebih memahami berbagai hal yang ia pelajari. Belajar langsung dari lingkungan sekitar akan membuat anak lebih mudah untuk mengerti dan mengingatnya,” jelasnya.
Lantas, apa saja tiga pelajaran penting yang bisa dipetik anak-anak dari kunjungan ke Kampung Tahu Bandung?
Baca juga – Cibadak Fun Day : Wisata Kuliner Terbesar di Hari Jadi Kota Bandung
1. Pelajaran tentang Proses dan Kesabaran: Dari Kedelai Menjadi Tahu
Di era yang serba instan, anak-anak terbiasa melihat makanan tersaji begitu saja di atas meja atau di rak supermarket. Kunjungan ke Kampung Tahu memberikan sebuah perspektif yang berharga tentang asal-usul makanan. Di sini, mereka dapat menyaksikan secara langsung seluruh alur produksi tahu yang ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.
Anak-anak akan melihat bagaimana biji kedelai yang keras harus direndam berjam-jam agar lunak. Mereka akan mendengar deru mesin penggiling yang mengubah kedelai menjadi bubur, lalu melihat proses perebusan hingga menjadi sari kedelai yang wangi. Momen paling ajaib bagi mereka mungkin adalah saat melihat biang tahu (koagulan) ditambahkan dan sari kedelai yang cair perlahan menggumpal. Proses berlanjut dengan pencetakan, penekanan untuk membuang air, hingga akhirnya pemotongan menjadi balok-balok tahu yang siap diolah. Dari proses panjang tersebut, anak-anak belajar pelajaran fundamental: segala sesuatu yang baik membutuhkan proses, waktu, dan kesabaran.
2. Pelajaran tentang Sains Sederhana di Dapur
Kampung Tahu adalah sebuah laboratorium sains yang menyenangkan. Tanpa disadari, anak-anak akan menyerap berbagai konsep ilmiah dasar secara praktis. Mereka belajar tentang perubahan wujud benda: dari biji kedelai yang padat, menjadi bubur, lalu sari kedelai yang cair, dan akhirnya kembali menjadi tahu yang padat namun lembut.
Mereka juga menyaksikan langsung proses koagulasi protein. Para pengrajin bisa menjelaskan dengan bahasa sederhana bagaimana sari kedelai yang kaya akan protein bisa menggumpal saat bertemu dengan zat yang sedikit asam, mirip seperti proses pembuatan keju dari susu. Selain itu, anak-anak juga melihat penerapan teknologi tradisional, seperti alat-alat pres manual dan tungku-tungku besar, yang menunjukkan bagaimana manusia sejak dulu memanfaatkan prinsip-prinsip fisika dan kimia untuk mengolah pangan. Pembelajaran tersebut membuat sains terasa relevan dan tidak lagi abstrak seperti di buku pelajaran.
3. Pelajaran tentang Kewirausahaan dan Ekonomi Lokal
Kunjungan tersebut juga membuka wawasan tentang dunia ekonomi dalam skala yang mudah dipahami. Anak-anak dapat melihat secara langsung sebuah rantai ekonomi lokal yang hidup. Mereka melihat bahan baku (kedelai) diolah menjadi sebuah produk jadi (tahu) yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Mereka bertemu dengan para pengrajin yang bekerja keras dengan keahlian turun-temurun.
Di area penjualan, mereka melihat proses transaksi antara penjual dan pembeli. Dari sana, sebuah diskusi sederhana bisa dimulai tentang konsep modal, biaya produksi, keuntungan, dan bagaimana sebuah produk tunggal seperti tahu mampu menghidupi sebuah komunitas, dari mulai petani kedelai, pengrajin, hingga pedagang di pasar. Pelajaran kewirausahaan tersebut menjadi bekal berharga yang menanamkan apresiasi terhadap kerja keras dan nilai sebuah produk.
Pada akhirnya, mengajak anak ke Wisata Kampung Tahu bukan hanya tentang mencicipi tahu yang hangat dan segar langsung dari pabriknya. Lebih dari itu, kunjungan tersebut adalah sebuah investasi untuk pikiran mereka. Sebuah “liburan cerdas” yang berhasil mengisi perut dengan kelezatan, dan mengisi benak dengan pelajaran nyata tentang proses, sains, dan kehidupan.
Baca juga – Cocok Untuk Wisata Religi Selama Ramadhan, Tiket Galeri Rasulullah SAW Masjid Al-Jabbar Masih Gratis
