Ir. Sutami Jadi Arsitek Gedung MPR dan Semanggi, Tetapi Atap Rumahnya Sendiri Bocor dan Listriknya Dicabut oleh PLN

Sekitarbandung.com – Kalau kamu melihat kemegahan Jembatan Semanggi, Gedung MPR/DPR, atau Bendungan Jatiluhur, maka ingatlah satu nama: Ir. Sutami. Ia merupakan “Menteri Kesayangan” dua Presiden,

Dicky Wicaksono

Ir. Sutami Jadi Arsitek Gedung MPR dan Semanggi, Tetapi Atap Rumahnya Sendiri Bocor dan Listriknya Dicabut oleh PLN
Ir. Sutami Jadi Arsitek Gedung MPR dan Semanggi, Tetapi Atap Rumahnya Sendiri Bocor dan Listriknya Dicabut oleh PLN

Sekitarbandung.com – Kalau kamu melihat kemegahan Jembatan Semanggi, Gedung MPR/DPR, atau Bendungan Jatiluhur, maka ingatlah satu nama: Ir. Sutami. Ia merupakan “Menteri Kesayangan” dua Presiden, yaitu Soekarno dan Soeharto.

Ia menjabat selama 14 tahun (1964-1978). Di tangannya, beton-beton raksasa itu berdiri kokoh menjadi ikon negara. Tapi siapa sangka, kehidupan pribadinya justru sangat rapuh.

Suatu hari saat Lebaran, tamu-tamu pejabat datang bersilaturahmi ke rumah dinasnya di Jalan Imam Bonjol. Tiba-tiba hujan deras turun.

Para tamu kaget melihat air menetes deras ke ruang tamu. Dengan santai, Pak Menteri mengambil ember untuk menampung air itu.

“Maaf ya, atapnya memang sudah lama bocor, belum ada uang buat benerin,” ucapnya sambil tersenyum.

Tamu-tamu tersebut terdiam. Ini rumah seorang Menteri PU yang mengurus infrastruktur negara?

Kejujuran Sutami tak perlu diragukan lagi. Pernah suatu ketika, rumah pribadinya di Solo gelap gulita. Bukan karena pemadaman bergilir, tetapi karena listriknya dicabut petugas PLN.

Alasannya sederhana: Pak Menteri telat bayar tagihan karena gajinya habis. Bayangkan, seorang Menteri Tenaga Listrik, tapi tak mampu beli setrum untuk dirinya sendiri.

Saat tubuhnya mulai digerogoti penyakit lever dan kurang gizi, Sutami enggan dibawa ke rumah sakit. Bukan karena takut jarum suntik, tetapi karena ia takut tak sanggup membayar biayanya.

Baca Juga: Tolak Hadiah Mobil dan Rumah, Merry Hoegeng dan Suami Tetap Hidup Bahagia Meski Tak Punya Apa-apa

Mendengar hal itu, Presiden Soeharto sampai harus turun tangan meminta dokter kepresidenan untuk merawatnya. Ia baru mau dirawat setelah dipaksa dan dijamin pemerintah.

Padahal, sebagai Menteri PU, Sutami memegang ribuan proyek basah. Satu persen saja ia minta fee dari kontraktor Jembatan Semanggi atau Bandara Ngurah Rai, ia bisa jadi konglomerat tujuh turunan.

Tapi Sutami memilih nol rupiah. Ia pernah menolak pemberian mobil mewah dari pengusaha. Ia mengharamkan uang rakyat masuk ke kantong pribadinya, meski itu artinya ia harus hidup melarat.

Ketika pensiun tahun 1978, ia mengembalikan semua fasilitas negara. Mobil dinas dikembalikan, rumah dinas ditinggalkan. Sutami baru bisa membeli rumah sederhana.

Ia membayar dengan cara mencicil dari uang pensiunnya yang tak seberapa. Rumah itu baru lunas tepat sebelum ia meninggal dunia pada tahun 1980.

Ir. Sutami tidak mewariskan tumpukan emas, tetapi ia mewariskan Jembatan Semanggi yang kita lewati setiap hari dan Gedung MPR tempat wakil rakyat bekerja.

Selain itu, ia juga mewariskan sebuah tamparan keras bahwa membangun negeri tak harus dengan cara mencuri. Terima kasih, Pak Sutami. Karyamu akan selalu abadi.

Baca Juga: Dipenjara Dua Tahun di Jeruji Besi oleh Sahabat Sendiri, Buya Hamka Justru Mengimami Shalat Jenazah Orang yang Menghukumnya

Related Post

Tinggalkan komentar