sekitarbandung.com – Menjelang puncak musim hujan, KAI awasi titik rawan longsor dan banjir di seluruh lintasan kereta api di Indonesia. Langkah antisipatif ini dilakukan menyusul peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi potensi cuaca ekstrem dengan intensitas hujan lebat hingga sangat lebat di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur hingga 16 November 2025.
Langkah KAI Menghadapi Cuaca Ekstrem
Vice President Public Relations KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa perusahaan telah menyiagakan 735 petugas tambahan di seluruh wilayah operasi. Mereka bertugas memantau dan memeriksa 177 titik rawan bencana, termasuk 110 lokasi di Pulau Jawa dan 67 di Sumatra.
“Kami memastikan seluruh jalur dan prasarana dalam kondisi aman. Pengawasan difokuskan pada titik-titik yang berisiko tinggi terhadap longsor, banjir, dan pergeseran tanah,” ungkap Anne.
KAI juga menyiapkan perlengkapan darurat seperti rel cadangan, bantalan tambahan, pasir, peralatan penerangan, dan jembatan darurat. Semua peralatan ditempatkan sedekat mungkin dengan wilayah rawan agar dapat segera digunakan jika dibutuhkan.
Selain itu, 287 petugas pemeriksa jalur tambahan, 298 petugas penjaga perlintasan, serta 150 pengawas daerah rawan telah disiagakan di jalur padat dan area pegunungan yang rentan terdampak cuaca ekstrem.
Baca Juga: 232 Pebulutangkis Siap Bertarung di Wondr by BNI Indonesia Masters 2025
BMKG: Hujan Lebat–Sangat Lebat di Jawa dan Wilayah Lain
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem saat ini disebabkan oleh kombinasi empat fenomena atmosfer, mulai dari Monsun Asia, gelombang Rossby, Madden-Julian Oscillation (MJO), hingga suhu muka laut hangat di perairan Indonesia bagian selatan.
“Gabungan fenomena ini memperkuat pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah, terutama di Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur,” jelas Guswanto dalam pernyataan resmi, Rabu (12/11/2025).
BMKG menetapkan status siaga cuaca ekstrem di beberapa provinsi lain seperti Bengkulu, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kalimantan Selatan, serta Papua Pegunungan.
Selain hujan deras, potensi angin kencang juga diperkirakan melanda Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Selatan.
Dampak dan Kejadian Terbaru
Cuaca ekstrem sudah mulai menunjukkan dampaknya. Pada Selasa (11/11/2025), tanah longsor terjadi di Jalan Raya Turus–Jurug, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, dan menewaskan satu pengendara yang melintas saat hujan deras.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan, terutama bagi sektor transportasi publik seperti KAI yang mengandalkan jalur darat dengan kontur tanah yang beragam.
Kesiapan Teknis dan Pemantauan 24 Jam
Menurut Anne Purba, semua petugas lapangan telah mendapatkan pelatihan khusus untuk mendeteksi dini tanda-tanda gangguan di rel maupun jembatan.
“Regu perawatan dan pengawas daerah rawan bertugas selama 24 jam penuh. Kami juga melakukan inspeksi tambahan ketika hujan deras atau terjadi perubahan suhu ekstrem,” ujarnya.
Selain pemantauan teknis, KAI bekerja sama dengan BMKG dan BNPB untuk memperbarui data prakiraan cuaca dan risiko bencana di setiap daerah lintasan. Kolaborasi ini menjadi bagian dari strategi mitigasi risiko agar perjalanan kereta tetap aman menjelang masa Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.
Imbauan untuk Masyarakat
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap perubahan cuaca mendadak, seperti hujan disertai petir dan angin kencang.
“Hindari aktivitas di ruang terbuka saat hujan deras, serta jauhi pepohonan besar atau bangunan rapuh,” imbau Guswanto.
KAI juga meminta pengguna jasa kereta api untuk memperhatikan jadwal perjalanan dan informasi terkini melalui kai.id atau aplikasi KAI Access. Langkah ini membantu penumpang mengantisipasi kemungkinan keterlambatan akibat gangguan cuaca.
Jika ingin update tentang hal di sekitar Bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

