Sekitarbandung.com – Kita pasti sering mendengar istilah FOMO di kalangan anak muda, tetapi kamu tahu tidak apa arti atau maksudnya?
Jadi, istilah FOMO (Fear of Missing Out) mulai populer pada 2013 yang berarti kondisi cemas atau takut ketinggalan momen penting, tren, atau informasi baru di media sosial.
Media sosial bagaikan jendela untuk mengintip kehidupan orang lain yang nyaris tanpa batas, sehingga perasaan tertinggal terasa semakin menjadi-jadi.
Biasanya, mereka yang mengalami FOMO akan merasa cemas berlebihan saat tidak memegang ponsel, baterai habis, atau tidak ada sinyal. Karena itu, FOMO sering dikaitkan dengan kecanduan gawai dan media sosial.
JOMO (Joy of Missing Out)
Setelah fenomena FOMO, lahirlah konsep alternatif JOMO (Joy of Missing Out) yang berarti kebahagiaan karena memilih untuk tidak mengikuti apa yang sedang tren. Persis kebalikan dari FOMO.
Lebih dalam dari itu, JOMO adalah perasaan puas atas kondisi saat ini tanpa merasa perlu terus-menerus mencari sesuatu yang lebih.
Dengan kata lain, JOMO mengajarkan kita untuk lebih menghargai momen saat ini dan merasa nyaman dengan pilihan untuk tidak selalu mengikuti arus.
Baca Juga: Bisa Jadi Bukan Fakta dan Tidak Benar, Yuk Kenali Congeniality Bias!
Perbedaan FOMO dengan JOMO
- Fokus
FOMO: Apa yang orang lain lakukan
JOMO: Apa yang kamu lakukan dan rasakan - Emosi
FOMO: Cemas, stres, iri
JOMO: Bahagia, tenang, puas - Motivasi
FOMO: Ikut tren, ekspektasi sosial
JOMO: Menghargai momen dan makna - Dampak
FOMO: Penurunan kesejahteraan mental
JOMO: Peningkatan kesejahteraan mental
Nah, sekarang sudah tahu perbedaan FOMO dan JOMO. Bagi kamu yang ingin beralih dari FOMO ke JOMO, bisa melakukan tips berikut ini:
- Batasi penggunaan media sosial.
- Fokus ke diri sendiri dan nikmati hal yang dicintai.
- Prioritaskan hubungan yang bermakna.
- Belajar bilang tidak, enggak, henteu/moal/embung, atau sorry tidak dulu.
- Bersyukur atas berkah dan rezeki kehidupan.
- Menikmati momen saat ini.
Pada akhirnya, memilih menjadi tim JOMO bukan berarti tertinggal, melainkan sadar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari mengikuti tren, tetapi dari kemampuan menikmati hidup dengan lebih tenang dan penuh makna.
Baca Juga: Puasa Lancar, tetapi Bau Mulut Bikin Insecure? Berikut Penyebab dan Cara Mencegahnya!

