sekitarbandung.com –Ribuan siswa di Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang menjadi korban keracunan MBG (Makan Bergizi Gratis) berangsur pulih. Data terbaru Dinas Kesehatan KBB menyebutkan, dari total 1.309 korban di tiga lokasi, sebanyak 1.244 orang sudah dinyatakan sembuh, sementara 65 lainnya masih menjalani perawatan medis.
Kronologi Kasus Keracunan MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digelar pemerintah seharusnya menjadi upaya untuk meningkatkan gizi anak sekolah. Namun, pada Rabu (24/9/2025), ratusan siswa di Kecamatan Cipongkor dan Kecamatan Cihampelas mengalami gejala keracunan usai menyantap menu MBG yang dibagikan.
Gejala yang muncul di antaranya mual, muntah, sakit perut, hingga diare. Sejumlah siswa harus dirujuk ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan intensif.
Baca Juga: Hari Jadi Kota Bandung ke-215: Dari Bandung Lautan Api hingga Kota Kreatif Dunia
Data Sebaran Korban di Tiga Desa
Kasus keracunan MBG Bandung Barat ini terbagi dalam tiga klaster besar:
-
Desa Sirnagalih, Cipongkor
-
Jumlah korban: 393 orang
-
Status: seluruh korban sudah dinyatakan sembuh.
-
-
Desa Neglasari, Cipongkor
-
Jumlah korban: 718 orang
-
Status: 680 sembuh, 38 masih dirawat.
-
-
Desa Cihampelas, Cihampelas
-
Jumlah korban: 198 orang
-
Status: 171 sembuh, 27 masih dirawat.
-
Secara keseluruhan, total korban mencapai 1.309 orang dengan 65 siswa masih dirawat di sejumlah rumah sakit dan puskesmas setempat.
Penjelasan Dinas Kesehatan
Sekretaris Dinas Kesehatan KBB, Nurul Rasyihan, mengonfirmasi data tersebut.
“Sebanyak 1.244 orang korban keracunan makanan di tiga lokasi berbeda telah dinyatakan sembuh dan sisanya masih menjalani perawatan,” ujarnya, Jumat (26/9/2025).
Plt Kepala Dinas Kesehatan KBB, Lia N. Sukandar, menambahkan bahwa pihaknya telah mengirim sampel makanan dan muntahan pasien ke Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas). “Uji laboratorium sudah dilakukan. Biasanya hasil keluar sekitar lima hari. Sampel yang diuji bukan hanya makanan, tapi juga muntahan dari pasien,” jelasnya.
Menurut Lia, langkah ini dilakukan agar penyebab pasti keracunan bisa diketahui, termasuk apakah ada kandungan bakteri atau zat berbahaya lain.
Reaksi dan Penanganan Cepat
Meski jumlah korban cukup besar, sebagian besar sudah ditangani dengan cepat. Warga, aparat desa, serta tenaga kesehatan setempat ikut membantu evakuasi siswa yang kondisinya cukup parah.
Dinas Kesehatan memastikan ketersediaan tenaga medis dan obat-obatan di fasilitas kesehatan yang merawat korban. “Kami terus memantau perkembangan para pasien yang masih dirawat. Jika ada gejala lanjutan, akan segera ditindaklanjuti,” tambah Nurul.
Latar Belakang Program MBG
Program MBG atau Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu kebijakan pemerintah untuk meningkatkan gizi pelajar, terutama di daerah dengan angka stunting dan gizi buruk yang masih tinggi. Program ini seharusnya memberi manfaat besar, namun insiden di Bandung Barat ini menunjukkan perlunya pengawasan distribusi makanan yang lebih ketat.
Menurut catatan Kementerian Kesehatan RI, keamanan pangan dalam program makanan massal sangat krusial agar tidak menimbulkan risiko keracunan. Proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan harus sesuai standar kesehatan.
Respon Masyarakat
Kasus keracunan MBG Bandung Barat ini menjadi sorotan publik. Banyak orang tua menaruh harapan agar kejadian serupa tidak terulang. Beberapa warga menilai perlu adanya keterlibatan pihak sekolah dalam mengawasi kualitas makanan sebelum dibagikan kepada siswa.
Seorang wali murid di Cipongkor menyampaikan, “Kami mendukung program MBG, tapi harus ada pengawasan lebih ketat. Anak-anak jadi takut makan makanan dari sekolah setelah kejadian ini.”
Investigasi Penyebab Masih Berjalan
Hingga saat ini, penyebab pasti keracunan masih menunggu hasil uji laboratorium. Dugaan sementara mengarah pada higienitas makanan dan proses distribusi. Jika terbukti ada kelalaian penyedia makanan, pemerintah daerah berjanji akan memberikan sanksi.
BNPB juga mengingatkan bahwa kasus keracunan massal seperti ini bisa dikategorikan sebagai kejadian luar biasa (KLB) yang memerlukan penanganan lintas sektor. Baca panduan resmi BNPB tentang penanganan KLB di sini.
Harapan ke Depan
Plt Kepala Dinkes Lia menegaskan, pihaknya akan terus mengevaluasi mekanisme distribusi MBG. “Kami ingin memastikan keamanan pangan lebih terjaga. Anak-anak harusnya mendapatkan manfaat, bukan malah jatuh sakit,” katanya.
Kasus ini sekaligus menjadi evaluasi besar bagi pemerintah daerah maupun pusat. Dengan pengawasan lebih ketat, transparansi, dan keterlibatan berbagai pihak, program MBG diharapkan tetap berjalan dengan aman dan bermanfaat bagi anak-anak sekolah.
Peristiwa keracunan massal akibat program MBG di Bandung Barat memberi pelajaran penting: setiap program yang menyangkut kesehatan publik harus diawasi secara menyeluruh. Hingga Jumat (26/9/2025), sebanyak 1.244 siswa sudah sembuh, sementara 65 orang masih dirawat intensif.
Masyarakat menunggu hasil uji laboratorium agar penyebab pasti diketahui dan tidak terulang di masa mendatang.
Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

