Kuda Nil Pablo Escobar Jadi Masalah 40 Tahun Kolombia, Warisan Raja Gembong Narkoba

Sekitarbandung.com – Kolombia mempunyai masalah yang sama dengan ikan sapu-sapu di Jakarta, yaitu kuda nil yang memiliki hubungan erat dengan gembong narkoba paling dikenal sedunia,

Dicky Wicaksono

Kuda Nil Pablo Escobar Jadi Masalah 40 Tahun Kolombia, Warisan Raja Gembong Narkoba
Kuda Nil Pablo Escobar Jadi Masalah 40 Tahun Kolombia, Warisan Raja Gembong Narkoba

Sekitarbandung.com – Kolombia mempunyai masalah yang sama dengan ikan sapu-sapu di Jakarta, yaitu kuda nil yang memiliki hubungan erat dengan gembong narkoba paling dikenal sedunia, Pablo Escobar.

250 km dari ibu kota Bogota, Pablo Escobar mempunyai markas di lembah Hacienda Napoles yang dilengkapi fasilitas militer, runway pesawat, dan kebun binatang di area yang sangat luas.

Escobar mengoleksi badak, gajah, jerapah, unta, kangguru, burung unta, rusa, dan kuda nil, yang semuanya diimpor secara ilegal dan/atau melalui black market internasional.

Empat Kuda Nil Kabur

Kuda nil diimpor sekitar dekade 1980-an dengan jumlah awal sebanyak 4 ekor, yang terdiri dari satu jantan dan tiga betina.

Singkat cerita, Pablo Escobar meninggal dunia setelah ditembak aparat pada tahun 1993. Markas di lembah Hacienda Napoles kemudian menjadi terbengkalai.

Empat kuda nil tersebut akhirnya kabur ke Sungai Magdalena. Mereka berkembang biak dan menjadi warlok dengan jumlah populasi yang terus meningkat hingga tahun 2026, alias sekitar 40 tahun kemudian, yaitu mencapai 160-200 ekor.

Namun masalahnya, seperti ikan sapu-sapu di Jakarta, kuda nil tidak mempunyai predator alami di Sungai Magdalena. Tidak ada gerombolan cheetah, harimau, atau buaya yang mengincar untuk memangsa mereka.

Baca Juga: 6 Konflik Paling Berdarah yang Pernah Terjadi Sepanjang Sejarah Manusia

Rantai Makanan Teratas

Akhirnya kuda nil berada di posisi rantai makanan teratas di Sungai Magdalena, yang membuat keseimbangan ekosistem terganggu karena memengaruhi ketersediaan makanan bagi hewan lain.

Selain itu, Sungai Magdalena merupakan sumber penghidupan warga setempat yang bekerja sebagai nelayan. Akibatnya, para nelayan menjadi lebih sulit mendapatkan hasil tangkapan.

Lebih parah lagi, para nelayan tersebut sering dikejar kuda nil, baik saat berada di atas perahu maupun ketika di darat. Kuda nil di Sungai Magdalena tercatat mampu berlari sekitar 8 km/jam di air dan 30 km/jam di daratan.

Selain itu, kuda nil juga sering mengejar warga yang sengaja datang untuk melihat mereka. Jika tidak sempat menghindar, satwa ini berpotensi melukai manusia dengan mulut yang sangat besar dan bobot tubuh yang berat.

Masalah Serius

Pemerintah Kolombia menganggap kondisi ini sebagai masalah serius. Dalam 12 tahun terakhir, mereka menjalankan program penangkapan kuda nil, melakukan operasi neuter agar mandul, lalu melepasnya kembali agar populasi tidak terus bertambah.

Namun masalahnya, program tersebut membutuhkan biaya yang tinggi. Proses penangkapan dan operasi sama-sama mahal serta membutuhkan alat dan tenaga profesional.

Karena dinilai kurang efektif, pada April 2026 Menteri Lingkungan Kolombia menyatakan bahwa pada semester II 2026 pemerintah berencana melakukan euthanasia terhadap 80 ekor kuda nil di Sungai Magdalena atau sekitar setengah dari populasi saat ini.

Pasalnya, jika dibiarkan, jumlah populasi diprediksi meningkat secara eksponensial hingga mencapai 500 ekor pada tahun 2030.

Langkah euthanasia ini membelah opini publik di Kolombia menjadi pro dan kontra. Pihak yang mendukung menilai kuda nil sudah mengganggu warga dan ekosistem, sedangkan pihak yang menolak memiliki pandangan berbeda dengan narasi seperti berikut:

“Harusnya pemerintah membuat Sungai Magdalena menjadi objek wisata aman, seperti wisata mengamati kuda nil.”

“Pembunuhan! Mereka (kuda nil) tidak memilih untuk dilahirkan.”

Baca Juga: 5 Pembunuh Berantai yang Paling Kejam dalam Sejarah

Related Post

Tinggalkan komentar