Sekitarbandung.com – Pada 26 Oktober 2010, Gunung Merapi di Jawa Tengah kembali menunjukkan letusan dahsyat yang mengirim awan panas vulkanik bersuhu sekitar 1.000 derajat Celsius ke lereng sekitarnya.
Peristiwa ini menjadi salah satu letusan paling mematikan dalam sejarah modern Merapi, menewaskan ratusan orang dan memaksa ribuan warga mengungsi.
Rekaman dan laporan saksi mata menyebutkan, awan panas dan material pijar meluncur cepat menuruni lereng gunung, membakar dan menghancurkan rumah-rumah di desa-desa yang berada di jalur lava.
Suara gemuruhnya terdengar hingga puluhan kilometer dari kawah, membuat penduduk panik dan segera meninggalkan rumah mereka.
Evakuasi dilakukan secara cepat oleh petugas BPBD dan TNI, dibantu warga setempat yang sigap membantu tetangga.
Baca Juga: Pendaki Terjatuh di Gunung Burangrang, SAR Dikerahkan
Meski demikian, beberapa desa tidak sempat terselamatkan karena awan panas bergerak terlalu cepat. Jalan-jalan utama menuju Merapi penuh dengan abu vulkanik tebal yang membuat jarak pandang hampir nol.
Sejumlah pengungsi melaporkan kondisi panik saat menyelamatkan diri. Banyak yang hanya sempat membawa barang-barang penting, sementara rumah dan ladang mereka hangus dilalap panas.
Sekolah dan fasilitas umum juga menjadi sasaran material panas, memaksa pemerintah setempat menutup sementara seluruh aktivitas di kawasan terdampak.
Pihak berwenang terus memantau aktivitas Merapi pasca-letusan, memperingatkan warga untuk tetap berada di zona aman. Letusan ini menjadi pengingat betapa dahsyatnya kekuatan alam dan pentingnya kesiapsiagaan bencana vulkanik.
Baca Juga: Remaja Jatuh ke Jurang Gunung Puntang Saat Hiking, Ini Kronologi dan Kondisinya

