Dava Adila Syuaib, Lulusan FK Unpad Termuda Usia 19 Tahun Berprestasi

sekitarbandung.com – Dava Adila Syuaib resmi tercatat sebagai lulusan FK Unpad termuda pada Wisuda Universitas Padjadjaran Gelombang IV Tahun Akademik 2024/2025. Pada usia 19 tahun

Aracely Azwa

Dava Adila Syuaib, Lulusan FK Unpad Termuda Usia 19 Tahun Berprestasi

sekitarbandung.com – Dava Adila Syuaib resmi tercatat sebagai lulusan FK Unpad termuda pada Wisuda Universitas Padjadjaran Gelombang IV Tahun Akademik 2024/2025. Pada usia 19 tahun 10 bulan, mahasiswa angkatan 2022 ini berhasil menyelesaikan studi Sarjana Kedokteran, sebuah pencapaian yang ia dedikasikan untuk keluarga.

“Senang dan bersyukur, walaupun sebenarnya tidak menargetkan menjadi lulusan termuda. Setidaknya ini ada yang bisa saya persembahkan untuk orang tua,” ujar Dava, Kamis (14/8/2025).

Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Bandung Suci Hadirkan Layanan JMO di PT Adira Semesta Industry

Dukungan keluarga dan filosofi hidup

Bagi Dava, peran keluarga sangat besar dalam membentuk disiplin dan semangat belajar. Sejak kecil ia dibekali filosofi hidup oleh orang tuanya, yang menurutnya sulit dipraktikkan jika jauh dari keluarga.

Strategi belajar: Disiplin lebih penting dari metode

Meski menggunakan teknik pomodoro untuk manajemen waktu, Dava menekankan bahwa kunci sukses adalah konsistensi dan fokus.

“Metode apapun tidak akan efektif jika dari diri sendiri masih banyak distraksi,” jelasnya.

Aktif di organisasi tanpa lupakan akademik

Selain berprestasi di bidang akademik, Dava aktif di BEM dan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia. Ia menegaskan prioritas akademik tetap di atas kegiatan organisasi ketika jadwal bertabrakan.

Tantangan di dunia kedokteran

Kesulitan memahami materi kedokteran dan rasa demotivasi sempat ia rasakan. Untuk mengatasinya, ia menata ulang ruang belajar agar lebih nyaman.
Momen yang paling berkesan baginya adalah kesempatan menyampaikan aspirasi langsung di depan Komisi IX DPR RI (dpr.go.id).

Minat akademik dan rencana masa depan

Dava tertarik pada bidang neurologi dan bercita-cita melanjutkan studi S2-S3 serta publikasi di jurnal bereputasi Q1/Q2. Namun, ia belum menentukan spesialisasi hingga memasuki masa koas.

Pesan tentang digitalisasi di dunia medis

Ia mengingatkan bahwa meski AI membantu pasien mencari informasi, pemeriksaan fisik dan pemahaman patofisiologi tetap membutuhkan dokter.

“Palpasi, auskultasi, dan pemeriksaan klinis tidak bisa dilakukan AI,” tegasnya.

Jika ingin update tentang hal di sekitar Bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

Related Post

Tinggalkan komentar