Manusia Terakhir dari Suku Yahi di California yang Diperlakukan seperti Pajangan

Sekitarbandung.com – Pada tahun 1911, seorang pria kelaparan muncul dari perbukitan California. Dunia terkejut karena ia adalah manusia terakhir dari sukunya yang dianggap sudah punah.

Dicky Wicaksono

Manusia Terakhir dari Suku Yahi di California yang Diperlakukan seperti Pajangan
Manusia Terakhir dari Suku Yahi di California yang Diperlakukan Seperti Pajangan

Sekitarbandung.com – Pada tahun 1911, seorang pria kelaparan muncul dari perbukitan California. Dunia terkejut karena ia adalah manusia terakhir dari sukunya yang dianggap sudah punah.

Namanya Ishi, anggota terakhir suku Yahi. Selama puluhan tahun, ia hidup bersembunyi sendirian di hutan setelah seluruh komunitasnya habis dibantai pada masa California Gold Rush.

Ishi hidup puluhan tahun tanpa ada satu pun orang yang mengerti bahasanya. Ia bersembunyi dari peradaban yang telah menghancurkan keluarganya hingga pada akhirnya kelaparan memaksanya untuk turun ke kota.

Ishi dibawa ke University of California, Berkeley dan tinggal bersama para antropolog. Bukannya hidup bebas, ia justru menjadi semacam “museum hidup”. Ia setiap hari memperagakan keahlian tradisional sukunya di depan pengunjung yang penasaran.

Baca Juga: 6 Produk Haram yang Berdampak Negatif pada Tubuh Manusia

Meski hidup dalam “kandang emas”, Ishi sangat kooperatif. Ia membagikan ribuan kata, lagu, dan teknik bertahan hidup sukunya. Tanpa Ishi, sejarah dan bahasa suku Yahi akan hilang selamanya dari muka bumi.

Ishi meninggal dunia pada tahun 1916 karena TBC. Pesan terakhirnya sangat jelas, yaitu ia ingin tubuhnya dikubur utuh tanpa diotopsi sesuai tradisi Yahi.

Namun, sains justru mengkhianatinya. Otaknya diambil tanpa izin dan dikirim ke Smithsonian Institution untuk diteliti.

Selama 84 tahun, bagian tubuh Ishi “tersandera” di museum. Baru pada tahun 2000, otaknya dikembalikan ke kelompok suku Amerika asli untuk dimakamkan secara layak. Sebuah upaya penebusan dosa sejarah yang sangat terlambat.

Ishi menghabiskan hidupnya sendirian. Namun melalui dirinya, suara sukunya tetap abadi. Menurutmu, apakah ilmu pengetahuan berhak untuk mengabaikan martabat manusia demi riset?

Baca Juga: 7 Penemuan yang Mengubah Kehidupan Manusia di Muka Bumi

Related Post

Tinggalkan komentar