Mati-matian Bela Rakyat Kecil, tetapi Gus Dur Malah Dilengserkan Paksa oleh Elite Politik di Parlemen

Sekitarbandung.com – Di tengah kekacauan runtuhnya Orde Baru, tampillah seorang tokoh Islam moderat yang karismatik, jenius, dan penuh humor, Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ia terpilih

Dicky Wicaksono

Mati-matian Bela Rakyat Kecil, tetapi Gus Dur Malah Dilengserkan Paksa oleh Elite Politik di Parlemen
Mati-matian Bela Rakyat Kecil, tetapi Gus Dur Malah Dilengserkan Paksa oleh Elite Politik di Parlemen

Sekitarbandung.com – Di tengah kekacauan runtuhnya Orde Baru, tampillah seorang tokoh Islam moderat yang karismatik, jenius, dan penuh humor, Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ia terpilih menjadi Presiden ke-4 Republik Indonesia.

Gus Dur memimpin dengan kacamata kemanusiaan. Gebrakannya awalnya membuat kaget banyak pihak. Ia mencabut aturan yang melarang kebudayaan Tionghoa.

Selain itu, ia juga menjadikan Imlek sebagai hari libur dan mengganti nama Irian Jaya menjadi Papua untuk mengembalikan martabat warganya. Ia adalah tameng bagi kaum minoritas.

Tetapi di balik itu, Gus Dur sangat keras terhadap korupsi. Ia tidak peduli bekingan partai. Menteri yang ketahuan korupsi atau tidak sejalan langsung dipecat.

Ia menolak secara tegas dan mentah-mentah saat diajak kompromi atau bagi-bagi jatah kekuasaan oleh para elite politik di Senayan saat itu.

Sikapnya yang “tidak bisa disetir” ini membuat banyak politisi dan oligarki marah besar. Mereka yang dulu bertepuk tangan mengangkat Gus Dur kini berbalik menyerang.

Melalui berbagai tuduhan skandal (Buloggate dan Bruneigate) yang tidak pernah terbukti secara hukum, parlemen Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) bersatu untuk menjatuhkannya.

Ancaman impeachment (pemakzulan) terjadi pada Juli 2001. Jutaan pendukung fanatik Gus Dur, terutama Banser dan nahdliyin, sudah mengepung Jakarta, siap mati membela presidennya.

Baca Juga: Orasi Bung Tomo Bikin Penjajah Gemetar, tetapi Malah Berakhir Dipenjara oleh Pemerintahannya Sendiri

Tinggal satu komando dari Gus Dur, perang saudara bisa pecah. Tetapi apa langkah yang dilakukan oleh Gus Dur?

“Tidak ada jabatan di dunia ini yang pantas dipertahankan dengan pertumpahan darah,” tegasnya.

Alih-alih melawan dengan kekerasan, Gus Dur justru memilih keluar dari Istana dan menyapa pendukungnya hanya dengan memakai celana pendek.

Hal tersebut menandakan simbol tamparan keras tentang betapa remehnya sebuah kekuasaan duniawi di hadapan matanya.

Gus Dur akhirnya lengser dan kembali menjadi rakyat biasa. Pada Desember 2009, sang Guru Bangsa berpulang. Jutaan orang dari berbagai agama menangisi kepergiannya.

Hingga hari ini, makamnya di Jombang tidak pernah sepi peziarah. Ia mungkin kehilangan kursi presidennya, tetapi ia memenangkan hati rakyat selamanya.

Riwayat Gus Dur merupakan pengingat pahit bahwa di panggung politik Indonesia, keberanian membela prinsip sering kali dihargai dengan pengusiran.

Ia membuktikan bahwa menjaga hati nurani jauh lebih penting daripada mempertahankan kursi, meski bayarannya adalah kehilangan kekuasaan.

Baca Juga: Abdurrahman Wahid, Presiden Humanis yang Dilengserkan di Tengah Upaya Menjaga Demokrasi

Related Post

Tinggalkan komentar