Kisah Tragis Mayjen S. Parman, Perwira TNI yang Menolak Ideologi Kakaknya hingga Gugur di Tangan Pengkhianat Bangsa

Sekitarbandung.com – Nama Mayor Jenderal Raden Soeparman atau Mayjen S. Parman tercatat sebagai salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa kelam Gerakan 30 September

Dicky Wicaksono

Kisah Tragis Mayjen S. Parman, Perwira TNI yang Menolak Ideologi Kakaknya hingga Gugur di Tangan Pengkhianat Bangsa
Kisah Tragis Mayjen S. Parman, Perwira TNI yang Menolak Ideologi Kakaknya hingga Gugur di Tangan Pengkhianat Bangsa

Sekitarbandung.com – Nama Mayor Jenderal Raden Soeparman atau Mayjen S. Parman tercatat sebagai salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa kelam Gerakan 30 September 1965 (G30S).

Di balik pengabdiannya sebagai perwira tinggi TNI Angkatan Darat, tersimpan kisah tragis tentang kesetiaan kepada negara yang bahkan harus dibayar dengan pengorbanan ikatan keluarga dan nyawanya sendiri.

Mayjen S. Parman lahir pada 4 Agustus 1918 di Wonosobo, Jawa Tengah. Ia dikenal sebagai perwira yang disiplin, cerdas, serta memiliki kemampuan intelijen yang kuat.

Sepanjang karier militernya, S. Parman banyak bertugas di bidang intelijen strategis dan dikenal tegas dalam menjaga ideologi negara berdasarkan Pancasila.

Kisah pahit dalam hidupnya muncul ketika ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa kakaknya sendiri, R. Soeprapto, diketahui menganut ideologi komunisme.

Kakaknya tersebut disebut lebih tua sekitar dua tahun dari S. Parman. Meski terikat hubungan darah, S. Parman dengan tegas menolak ideologi yang dianut sang kakak karena dinilainya bertentangan dengan dasar negara dan berpotensi mengancam keutuhan bangsa.

Keputusan tersebut bukan perkara mudah. Penolakan terhadap ideologi kakaknya membuat S. Parman berada dalam dilema batin yang berat.

Baca Juga: Kisah Tragis Wage Rudolf Supratman Sebagai Pencipta Lagu Indonesia Raya yang Tak Sempat Mendengarkan Lagu Ciptaannya Saat Bangsa Merdeka

Namun, sebagai prajurit, ia memilih berdiri tegak pada sumpahnya untuk setia kepada negara, meski harus menanggung konsekuensi sosial dan emosional di lingkungan keluarga.

Keteguhan sikap itulah yang menjadikan S. Parman sosok yang tidak disukai oleh kelompok yang terlibat dalam gerakan pengkhianatan terhadap negara.

Perannya di dunia intelijen serta penolakannya terhadap paham komunisme membuat namanya masuk dalam daftar target pada peristiwa G30S.

Pada 1 Oktober 1965, Mayjen S. Parman diculik dari kediamannya oleh pasukan pemberontak. Ia kemudian dibawa ke kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, bersama sejumlah perwira tinggi TNI lainnya.

Dalam peristiwa tersebut, S. Parman gugur secara tragis dan jasadnya ditemukan beberapa hari kemudian di dalam sumur tua.

Mayjen S. Parman wafat dalam usia 47 tahun. Ia gugur sebagai prajurit yang teguh memegang prinsip, memilih negara di atas segalanya, bahkan di atas ikatan keluarga sendiri. Pengorbanannya menjadi bagian dari sejarah kelam sekaligus pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia.

Kisah hidup Mayjen S. Parman menjadi simbol keberanian moral dan kesetiaan mutlak kepada negara. Ia bukan hanya gugur di tangan pengkhianat bangsa.

Tetapi juga dikenang sebagai perwira yang rela kehilangan segalanya demi tegaknya Pancasila dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca Juga: Kisah Tragis Bung Tomo, Pahlawan 10 November yang Hidupnya Berakhir Penuh Kesendirian

Related Post

Tinggalkan komentar