Menlu Indonesia yang Sukses Damaikan Kamboja dan Selamatkan Jutaan Nyawa

Sekitarbandung.com – Pada era 1980-an, Asia Tenggara bukanlah kawasan yang damai seperti saat ini. Kamboja saat itu luluh lantak akibat perang saudara yang berkepanjangan dan

Dicky Wicaksono

Menlu Indonesia yang Sukses Damaikan Kamboja dan Selamatkan Jutaan Nyawa
Menlu Indonesia yang Sukses Damaikan Kamboja dan Selamatkan Jutaan Nyawa

Sekitarbandung.com – Pada era 1980-an, Asia Tenggara bukanlah kawasan yang damai seperti saat ini. Kamboja saat itu luluh lantak akibat perang saudara yang berkepanjangan dan intervensi militer asing.

Jutaan nyawa melayang dalam tragedi Killing Fields. Dunia internasional, termasuk PBB, menemui jalan buntu karena faksi-faksi yang bertikai menolak duduk bersama di meja perundingan formal.

Langkah Berani Indonesia

Di tengah kebuntuan tersebut, Indonesia mengambil langkah berani. Presiden Soeharto mengutus Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (RI), Ali Alatas, untuk turun tangan.

Pria yang identik dengan kacamata tebal dan kepulan asap rokok ini bukan diplomat biasa. Ia dikenal memiliki kecerdasan retorika tingkat tinggi, elegan, namun sangat tajam saat berdebat di forum internasional.

Taktik Out of The Box

Mengetahui pendekatan formal tidak membuahkan hasil, Indonesia menggunakan taktik out of the box dengan melanjutkan fondasi gagasan “Cocktail Party” dari Menlu sebelumnya, Mochtar Kusumaatmadja. Ali Alatas kemudian mengeksekusinya secara brilian melalui Jakarta Informal Meeting (JIM) pada Juli 1988.

Alih-alih menggunakan ruang sidang yang kaku, para pimpinan faksi Kamboja diundang ke Istana Bogor dalam suasana santai tanpa protokol yang rumit.

Di sanalah kejeniusan Ali Alatas bekerja. Dalam suasana yang lebih rileks, ditemani secangkir kopi dan obrolan informal, ego para pimpinan faksi perlahan mencair.

Mereka mulai berbicara dari hati ke hati sebagai sesama manusia, bukan sebagai panglima perang. Diplomasi gaya ketimuran ini berhasil memecah kebuntuan yang selama bertahun-tahun gagal dilakukan oleh Barat.

Baca Juga: Perjalanan Xi Jinping dari Anak Kecil yang Dicampakkan hingga Jadi Manusia Paling Powerful

Lobi Tingkat Dewa

Taktik lobi tingkat dewa ini membuka jalan bagi perundingan-perundingan krusial berikutnya.

Puncaknya terjadi saat Perjanjian Damai Paris ditandatangani pada tahun 1991, dengan Ali Alatas bertindak sebagai Co-Chairman konferensi.

Perang saudara di Kamboja pun berakhir, dan dunia internasional memberikan standing ovation (tepuk tangan penghormatan) atas kepemimpinan diplomasi Indonesia.

Perisai Utama Indonesia

Selama lebih dari satu dekade menjabat sebagai Menlu pada periode 1988-1999, Ali Alatas menjadi perisai utama Indonesia di dunia internasional, termasuk pada masa-masa sulit seperti krisis Timor Timur pasca 1998.

Ia wafat pada tahun 2008 dengan meninggalkan warisan standar diplomasi yang sangat tinggi. Hingga saat ini, nama Ali Alatas tetap dikenang sebagai salah satu diplomat paling brilian yang pernah dilahirkan oleh ibu pertiwi.

Baca Juta: Jadi Lulusan Terbaik Kampus Eropa, tetapi Dilarang untuk Pulang ke Indonesia

Related Post

Tinggalkan komentar