Sekitarbandung.com – Usai insiden tabrakan kereta di Bekasi, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, mengusulkan agar posisi gerbong khusus wanita di KRL dipindahkan ke bagian tengah rangkaian.
Usulan tersebut muncul sebagai respons atas kecelakaan maut antara Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek tujuan Surabaya dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur, pada Senin malam (27/4/2026) sekitar pukul 20.55 WIB.
“Tetapi dengan adanya peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah,” ujar Arifah kepada wartawan setelah menjenguk korban di RSUD Bekasi, pada Selasa (28/4/2026).
Arifah mengaku telah berkoordinasi dengan pihak KAΙ dan menanyakan gerbong khusus wanita. Ia juga mendapatkan penjelasan KAI terkait posisi gerbong wanita di posisi depan atau belakang.
“Tadi kita mengobrol dengan KAI itu mengapa ditaruh di paling depan maupun paling belakang. Jadi inginnya laki-laki di ujung depan maupun belakang, dan yang perempuan di tengah gitu,” lanjutnya.
Menanggapi hal tersebut, beberapa netizen sangat menyayangkan bahwa ia sekelas pejabat justru memberikan jawaban yang sangat tidak solutif dan berat sebelah bagi kaum laki-laki.
Mereka mempertanyakan apakah laki-laki tidak perlu untuk diselamatkan. Padahal faktanya, laki-laki dan perempuan sama-sama berharganya sebagai manusia.
Selain itu, beberapa warganet yang lain juga menyarankan bahwa pemerintah seharusnya membuat kebijakan yang bisa mensejahterakan masyarakat, sehingga wanita tidak perlu keluar rumah untuk bekerja dan berjejalan di gerbong.

