Monsun Australia Bandung Picu Suhu Dingin, Warga Diminta Waspada

sekitarbandung.com – Monsun Australia Bandung membuat suhu udara turun drastis di Kabupaten Bandung. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung mencatat suhu minimum mencapai 17

Aracely Azwa

Monsun Australia Bandung Picu Suhu Dingin, Warga Diminta Waspada

sekitarbandung.com – Monsun Australia Bandung membuat suhu udara turun drastis di Kabupaten Bandung. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung mencatat suhu minimum mencapai 17 derajat Celsius pada Kamis (28/8/2025) dini hari.

Fenomena ini langsung dirasakan masyarakat di Bandung Raya, terutama pada pagi hari yang lebih dingin dari biasanya. Kondisi ini merupakan dampak dari monsun Australia yang tengah mendominasi atmosfer wilayah Jawa Barat.

Fenomena Monsun Australia Bandung dan Dampaknya

Kepala BMKG Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa masuknya monsun Australia membuat suhu harian terasa kontras. Siang hari cenderung panas terik, sementara dini hari hingga pagi suhu menurun cukup ekstrem.

“Monsun Australia Bandung membawa massa udara kering dan dingin dari selatan. Hal itu menyebabkan siang terasa lebih panas, tetapi pada malam hingga pagi hari suhu turun drastis,” ujar Teguh.

Baca Juga: Peluang Kerja Luar Negeri 2025 Tersedia 639 Ribu, Prioritas untuk Tenaga Kerja Indonesia

Mengapa Suhu Bisa Lebih Dingin?

Selain pengaruh monsun, kondisi semakin diperkuat oleh berkurangnya awan konvektif. Langit yang cerah pada malam hari membuat panas bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer. Akibatnya, suhu di permukaan tanah turun lebih rendah dibandingkan biasanya.

“Udara kering dari monsun Australia Bandung membuat energi panas siang hari terserap maksimal. Namun saat malam, energi itu terlepas kembali sehingga suhu terasa menusuk dingin,” jelas Teguh.

BMKG Bandung Beri Penjelasan

BMKG mencatat fenomena suhu dingin ini sudah terjadi beberapa pekan terakhir. Pola ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir Agustus 2025.

“Warga Kabupaten Bandung diminta mewaspadai perbedaan suhu siang dan malam yang cukup ekstrem,” ujar Teguh.

Beberapa wilayah dataran tinggi seperti Lembang dan kawasan Ciwidey mengalami suhu lebih rendah dibandingkan perkotaan. Perbedaan ini bisa mencapai 2–3 derajat Celsius.

Dampak pada Aktivitas Warga

Sejumlah warga mengaku aktivitas pagi hari menjadi lebih berat karena suhu dingin. Banyak yang harus menggunakan jaket tebal saat berangkat kerja atau sekolah.

Di sisi lain, udara kering juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti batuk, pilek, atau kulit kering. BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga stamina tubuh, memperbanyak konsumsi air putih, serta mengenakan pakaian hangat saat beraktivitas di luar rumah.

Langkah Antisipasi

BMKG juga menegaskan bahwa fenomena ini merupakan bagian normal dari musim kemarau. Namun, masyarakat tetap perlu melakukan langkah antisipasi sederhana:

  1. Gunakan pakaian hangat saat malam dan pagi hari.

  2. Perbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi akibat udara kering.

  3. Hindari aktivitas berlebihan di siang hari ketika cuaca panas terik.

  4. Pantau informasi resmi BMKG agar tidak termakan isu atau kabar tidak benar.

Untuk informasi lebih lengkap tentang prakiraan cuaca dan peringatan dini, masyarakat bisa mengakses laman resmi BMKG.

Fenomena monsun Australia Bandung menjadi pengingat pentingnya memahami pola iklim dan cuaca yang terus berubah. Walaupun wajar terjadi di musim kemarau, perbedaan suhu siang dan malam yang ekstrem tetap harus diwaspadai.

Jika ingin update tentang hal di sekitar Bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

Related Post

Tinggalkan komentar