sekitarbandung.com – Pesawat Tempur Dassault Rafale segera memperkuat jajaran TNI Angkatan Udara (TNI AU). Sebagai persiapan, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal M. Tonny Harjono melakukan kunjungan langsung ke Pangkalan Udara (Lanud) Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, yang akan menjadi home base jet tempur generasi 4.5 asal Prancis tersebut.
Kunjungan yang dilakukan pada Rabu (24/9/2025) itu merupakan bagian dari upaya memastikan kesiapan infrastruktur, sarana, dan personel menyambut kedatangan alutsista baru. Kehadiran Rafale disebut sebagai lompatan strategis dalam modernisasi kekuatan udara Indonesia.
Baca Juga: Wali Kota Prabumulih Arlan Pilih Rekonsiliasi, Janji Konsisten Bangun Kota Lebih Maju
Kesiapan Infrastruktur di Lanud Roesmin Nurjadin
Dalam keterangan resmi, Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur terus dikebut.
“Menjelang kedatangan pesawat tempur Rafale, TNI Angkatan Udara mematangkan pembangunan fasilitas utama, mulai dari hanggar, area pemeliharaan, hingga pusat pelatihan (training center),” jelas Nyoman.
Komandan Lanud Roesmin Nurjadin, Marsekal Pertama TNI Abdul Haris, juga memaparkan progres pembangunan fasilitas di hadapan KSAU. Setelah menerima laporan, Marsekal Tonny meninjau langsung beberapa fasilitas pendukung yang telah disiapkan.
Rafale: Jet Tempur Generasi 4.5 yang Canggih
Pesawat Tempur Dassault Rafale dikenal sebagai salah satu jet tempur paling mumpuni di kelasnya. Dengan kemampuan multi-role, pesawat ini bisa digunakan untuk misi udara-ke-udara, udara-ke-darat, pengintaian, hingga serangan elektronik.
Keberadaan Rafale di Indonesia diharapkan memperkuat daya gentar TNI AU sekaligus menjadi bagian penting dalam sistem pertahanan udara nasional.
Berdasarkan data Dassault Aviation, Rafale dilengkapi teknologi radar AESA, sistem peperangan elektronik Spectra, serta kemampuan membawa berbagai persenjataan canggih.
Modernisasi Alutsista Indonesia
Kedatangan Rafale bukan sekadar penambahan armada, tetapi bagian dari modernisasi alat peralatan pertahanan dan keamanan (alpalhankam) Indonesia.
KSAU Marsekal Tonny menegaskan bahwa modernisasi ini merupakan langkah strategis untuk membangun postur kekuatan udara yang adaptif, modern, dan siap menjaga kedaulatan NKRI.
“Tujuan kita jelas, meningkatkan daya gentar sekaligus memastikan kedaulatan udara Indonesia terjaga,” tegasnya.
Tahap Pengiriman Pesawat Baru
Sementara itu, Kepala Biro Informasi Pertahanan (Infohan) Setjen Kementerian Pertahanan (Kemhan) Brigjen TNI Frega Wenas menyebutkan bahwa pengiriman pesawat tempur Rafale akan dimulai pada awal tahun 2026.
Selain Rafale, Indonesia juga menunggu kedatangan pesawat angkut berat Airbus A400M yang dijadwalkan tiba lebih dahulu pada akhir 2025.
“Kemungkinan awal tahun depan Rafale sudah mulai diterima, sementara A400M diharapkan tiba akhir tahun ini,” ujar Frega.
Langkah Strategis TNI AU
Pembangunan infrastruktur pendukung di Lanud Roesmin Nurjadin sejalan dengan prioritas TNI AU. Selain kesiapan fasilitas, personel juga tengah digembleng untuk memahami sistem operasional pesawat tempur baru tersebut.
Menurut pengamat pertahanan dari Universitas Indonesia, kedatangan Rafale menjadi simbol keseriusan Indonesia memperkuat armada udaranya.
“Rafale bukan hanya soal teknologi, tetapi juga transfer ilmu, pelatihan, dan kesiapan industri pertahanan dalam negeri untuk mendukungnya,” jelasnya.
Kehadiran Pesawat Tempur Dassault Rafale akan menjadi momentum penting bagi TNI AU dalam modernisasi kekuatan pertahanan udara. Dengan infrastruktur yang siap, SDM yang terlatih, serta dukungan anggaran pemerintah, Indonesia diproyeksikan memiliki daya gentar yang lebih kuat di kawasan regional.
Untuk informasi resmi mengenai pengadaan alutsista, masyarakat dapat mengakses laman Kementerian Pertahanan RI.
Jika ingin update tentang hal di sekitar Bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

