sekitarbandung.com – Peternak Sapi Perah Jabar mendapat perhatian serius dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Melalui program pembiayaan perbankan senilai Rp1 triliun, langkah ini diharapkan mampu menggerakkan ekonomi daerah sekaligus memperkuat ketahanan pangan melalui peningkatan produksi susu.
Dukungan OJK dan Pemprov Jabar untuk Peternak
Dalam kegiatan Sarasehan dan Penandatanganan Nota Kesepahaman di Lembang, OJK, Pemprov Jabar, industri jasa keuangan (IJK), dan Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Barat sepakat mempercepat pengembangan subsektor sapi perah.
Menurut Kepala OJK Jabar, Darwisman, potensi penyaluran kredit ke subsektor ini diperkirakan mencapai Rp1 triliun. Dengan dukungan ini, diharapkan peternak sapi perah Jabar lebih mudah mengakses modal untuk membeli bibit, pakan, dan memperluas usaha.
Baca Juga: KUR BRI 2025: Rp114,28 Triliun Disalurkan ke 2,5 Juta UMKM untuk Dorong Ekonomi Kerakyatan
Tantangan Peternak Sapi Perah Jabar
Saat ini, GKSI Jabar mencatat ada kekosongan kandang untuk sekitar 21.550 ekor sapi akibat dampak wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada 2022. Kondisi ini membuat produksi susu menurun signifikan. Jumlah sapi perah di Jabar 2025 hanya sekitar 14 ribu ekor, padahal tahun sebelumnya masih 30 ribu ekor.
Produksi susu per tahun pun turun menjadi 239 ribu ton, sementara kebutuhan konsumsi masyarakat Jabar mencapai 336 ribu ton. Kekurangan ini harus segera diatasi agar peternak sapi perah Jabar bisa memenuhi permintaan susu lokal.
Kredit Perbankan untuk Pengembangan
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dibutuhkan pendanaan sekitar Rp967 miliar. Harga sapi perah indukan lokal saat ini Rp25 juta per ekor, sedangkan impor dari Australia Rp45 juta per ekor. Pemerintah pun telah menetapkan kuota impor 3.500 ekor sapi pada 2025 dengan nilai investasi Rp157,5 miliar.
Beberapa bank yang terlibat dalam program ini antara lain Bank BJB dan BRI. Menurut Statistik Perbankan Indonesia (Juni 2025), penyaluran kredit subsektor sapi perah di Jabar baru Rp230,94 miliar atau 1,07% dari total kredit sektor pertanian. Dengan kerja sama ini, target kredit subsektor bisa naik menjadi Rp1,19 triliun atau 5,5% dari total kredit.
Sinergi untuk Kemandirian Ekonomi Desa
Sekda Jabar Herman Suryatman menekankan program ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Daerah Jawa Barat 2024–2029. Targetnya, produksi susu Jabar bisa menjadi peringkat pertama nasional dalam dua tahun mendatang.
Selain itu, program ini mendukung kebijakan nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan meningkatkan permintaan susu lokal. Strategi pengembangan juga mencakup penyediaan bibit, pakan, pengelolaan limbah, dan pemasaran.
Dengan kolaborasi OJK, Pemprov Jabar, GKSI, serta perbankan, peternak sapi perah Jabar diharapkan mampu naik kelas, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat kemandirian ekonomi desa.
Pengembangan peternak sapi perah Jabar bukan hanya soal memperbanyak sapi dan susu, melainkan juga bagian dari strategi besar meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan. OJK menegaskan komitmennya memperkuat literasi keuangan, memperluas inklusi, sekaligus mendorong akses kredit yang sehat bagi para peternak. Untuk mengetahui regulasi resmi tentang kredit usaha di sektor peternakan, Anda dapat membaca di situs Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Jika ingin update tentang hal di sekitar Bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

