sekitarBANDUNGcom, Bandung, 26 Juli 2025 – Sebuah kisah pilu datang dari Kabupaten Bandung, menjadi pengingat yang sangat kuat akan bahaya rokok bagi kesehatan anak. Seorang anak berinisial A (8), tak berdaya terbaring saat batuk yang disertai dahak berdarah mengganggu aktivitasnya. Kondisi seperti ini dialaminya sejak ia berusia 1 tahun. Meskipun demikian, A, yang sekarang duduk di kelas 2 sekolah dasar (SD), tidak menyerah. Namun, penyakit bronkitis akut yang dideritanya hampir dua kali sebulan memaksanya menjalani terapi, sebuah kondisi yang membuat orang tuanya diselimuti penyesalan mendalam.
Table of Contents
ToggleAwal Mula Penyakit: Flek di Paru-Paru Sejak Bayi
Sang Ibu (36) menceritakan kondisi putra pertamanya hingga mengidap penyakit serius. A lahir di salah satu bidan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pada saat itu, tidak ada gejala yang mengarah pada kondisi A saat ini. Namun, hanya beberapa bulan setelah kelahiran A, Sang Ibu dan suaminya membawa anak mereka ke rumah sakit karena mengalami sesak napas. Dokter menyatakan bahwa paru-paru A memiliki flek yang kental, sebuah tanda awal adanya masalah pada organ pernapasan.
Penanganan dokter terhadap A cukup cepat dan responsif. “Dia dirawat selama sekitar tiga hari, kemudian diberikan pengobatan dan peralatan untuk mengeluarkan lendir. Alhamdulillah, bisa dibilang dia sembuh saat itu,” jelas Sang Ibu. Kesembuhan A disambut dengan sukacita oleh Sang Ibu dan suaminya. Mereka pun mengadakan acara syukuran, yakin bahwa apa yang dialami putra mereka tidak akan berlangsung lama.
Penyebab Penyakit Terungkap: Asap Rokok Orang Tua
Ketika A berusia satu tahun, keyakinan Sang Ibu dan suaminya hancur. Suatu siang di bulan Februari 2016, A batuk dengan hebat dan mengeluarkan lendir serta sedikit darah, diikuti dengan demam. Sang Ibu yang terkejut awalnya hanya mengira bahwa anaknya mengalami batuk biasa. Ia hanya memberikan obat dari apotek biasa, karena suaminya sedang bekerja di luar kota. Namun, batuk A tidak kunjung berhenti selama dua atau tiga minggu.
Khawatir dengan batuk yang berkepanjangan, akhirnya A menjalani pemeriksaan medis. Dia menjalani beberapa pemeriksaan seperti rontgen paru-paru, analisis darah, dan tes fungsi paru-paru. Hasilnya, dokter menyatakan bahwa A menderita bronkitis akut. Saat itu, Sang Ibu merasa tidak percaya, terutama ketika mendengar bahwa penyebabnya adalah asap rokok.
Sang Ibu sendiri merupakan perokok aktif sejak remaja, bisa menghabiskan dua bungkus rokok dalam sehari. Begitu pula dengan suaminya. Namun, ia berhenti merokok setelah menikah. Sang Ibu tidak pernah menyangka bahwa berhenti merokok tidak menjamin kebebasan dari dampak rokok.
Baca juga : 9 Tips Berkendara Sambil Puasa di Bandung
Penyesalan Mendalam dan Upaya Menebus Kesalahan
Sang Ibu mengaku bahwa ia sangat menyesal atas kondisi putranya. “Saya sangat menyesal. Sungguh, saya sangat menyesal. Dampaknya tidak langsung saya rasakan, malah menimpa anak saya,” tambahnya. Ia mengakui bahwa saat A lahir, ia tidak terlalu memperhatikan lingkungan sekitar, termasuk ketika suaminya merokok. “Terus terang, saya tidak terlalu memperhatikan hal itu. Misalnya, ketika suami merokok di ruang tengah, saya dan A berada di kamar dan pintunya tidak saya tutup,” jelasnya.
Kini, dengan fokus pada kesembuhan A yang berusia delapan tahun, Sang Ibu dan suaminya berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sang Ibu memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai staf di Badan Usaha Milik Daerah (BUMN) untuk mendukung kesembuhan putra sulungnya. Sementara itu, suaminya telah memulai program untuk berhenti merokok secara bertahap.
“Alhamdulillah, anak kedua saya tidak divonis penyakit apa pun,” ujarnya. Mereka juga menyediakan ruangan khusus untuk tamu atau anggota keluarga yang merokok, memastikan tidak ada lagi asap rokok yang mencapai anak-anak mereka.
Sang Ibu juga mengungkapkan bahwa ia telah memilih pengobatan herbal untuk A selama lebih dari tiga tahun. “Saat ini, dia menjalani pengobatan herbal dan kadang-kadang melakukan olahraga ringan untuk membersihkan paru-parunya,” ucapnya. Mereka juga sering mengajaknya pergi ke tempat yang udaranya masih segar seperti di pegunungan. “Kami melakukan apa pun yang bisa kami lakukan sebagai upaya untuk menebus kesalahan kami terhadap A. Saya benar-benar ingin dia sembuh total,” tutupnya.
Baca juga :Tips Aman Tinggal di Apartemen Bandung Anti Ribet
(adm)

