sekitarbandung.com – Produksi kerupuk mi Banjaran kembali mengalami penurunan signifikan akibat hujan yang turun hampir setiap hari di wilayah Kabupaten Bandung. Penurunan ini mencapai sekitar 50 persen dan membuat para pelaku usaha rumahan kesulitan menjaga stabilitas produksi di tengah permintaan pasar yang tetap tinggi.
Hujan Harian Membuat Produksi Kerupuk Tidak Maksimal
Di Kampung Bayongbong, Desa Sindangpanon, Banjaran, banyak produsen kerupuk mi mengeluhkan cuaca yang tidak menentu. Kerupuk mi atau dikenal sebagai mi anclom merupakan produk khas daerah yang masih diproduksi secara tradisional. Proses pembuatannya sangat bergantung pada cuaca, terutama tahap penjemuran.
Dalam kondisi normal saat matahari terik, seorang perajin mampu menghasilkan sekitar satu kuintal kerupuk dalam sehari. Namun saat memasuki musim hujan, kapasitas tersebut turun drastis menjadi hanya 50 kilogram. Produksi kerupuk mi Banjaran pun terganggu karena adonan tidak bisa mengering sempurna tanpa sinar matahari.
Baca Juga: Traffic Light AI Bandung: Uji Coba untuk Atasi Kemacetan Kota
Proses Tradisional yang Sangat Bergantung Matahari
Sebagian besar pelaku usaha kerupuk di Banjaran mempertahankan metode produksi lama yang diwariskan turun-temurun. Dari mencampur adonan, mencetak, mengukus, hingga menjemur, seluruh proses masih dilakukan secara manual. Untuk menghasilkan kerupuk mi berwarna kuning yang khas, produsen menggunakan tepung tapioka sebagai bahan utama.
Setelah adonan dicampur, perajin memasukkannya ke alat cetak sederhana berbahan bambu yang mereka buat sendiri. Satu lembar adonan kemudian disusun rapi di atas wadah anyaman, biasanya memuat sembilan lembar per anyaman. Proses berikutnya adalah pengukusan menggunakan kayu bakar selama 15 menit agar adonan mengembang sebelum dijemur.
Ketergantungan pada penjemuran matahari membuat produksi kerupuk mi Banjaran mengalami fluktuasi besar. Ketika cuaca mendung atau hujan, kerupuk tidak bisa dikeringkan dengan baik, sehingga jumlah yang diproduksi menurun. Banyak perajin akhirnya memilih mengurangi produksi daripada mengambil risiko kerupuk tidak layak jual.
Kendala UMKM yang Belum Tersentuh Teknologi
Pelaku UMKM kerupuk mi di Banjaran menghadapi tantangan besar dalam hal modernisasi. Sebagian besar peralatan masih manual karena biaya investasi mesin pengering cukup tinggi. Bagi produsen kecil, modal untuk membeli mesin pengering otomatis sering kali tidak tersedia.
Meski demikian, beberapa produsen terus berusaha mempertahankan kualitas produk agar tetap diminati konsumen. Kerupuk mi Banjaran dijual dengan harga sekitar Rp10.000 per bungkus berisi 60 keping. Produk ini banyak ditemukan di Pasar Banjaran dan menjadi salah satu camilan khas yang cukup populer.
Permintaan Pasar Tetap Stabil Meski Produksi Turun
Meski cuaca menghambat proses produksi, permintaan kerupuk mi Banjaran terbilang stabil. Banyak pedagang dan pelaku usaha kuliner mengandalkan kerupuk ini sebagai pelengkap hidangan. Kondisi ini membuat para produsen berusaha tetap memproduksi meski dalam jumlah yang lebih sedikit.
Sebagian perajin juga berharap ada alat pengering alternatif yang lebih terjangkau agar mereka tidak sepenuhnya mengandalkan cuaca. Jika hal ini terpenuhi, UMKM kerupuk mi di Banjaran dapat meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menjaga kualitas produk.
Harapan Pelaku UMKM: Cuaca Cerah dan Dukungan Berkelanjutan
Dengan prediksi curah hujan masih cukup tinggi pada beberapa pekan ke depan, para produsen kerupuk mi Banjaran berharap dukungan dari pemerintah maupun lembaga pemberdayaan UMKM terus mengalir. Bantuan berupa alat pengering, pelatihan produksi modern, hingga akses permodalan sangat dibutuhkan.
Produksi kerupuk mi Banjaran adalah bagian dari identitas kuliner daerah. Jika proses produksinya dapat ditingkatkan, sektor UMKM di wilayah tersebut berpotensi berkembang lebih besar dan mampu menopang perekonomian lokal.
Jika ingin update tentang hal di sekitar Bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com

