Radja Nainggolan Menyesal Tak Bela Timnas Indonesia, Singgung Uang hingga Rolex

sekitarbandungcom – Radja Nainggolan menyesal tidak pernah memperkuat Timnas Indonesia setelah mengungkapkan pandangannya mengenai dukungan suporter, popularitas, dan keuntungan yang bisa diperoleh pemain keturunan saat

Erna Cahya

[addtoany]

Radja Nainggolan Menyesal Tak Bela Timnas Indonesia, Singgung Uang hingga Rolex
Radja Nainggolan menyesal tidak pernah memperkuat Timnas Indonesia setelah mengungkapkan pandangannya mengenai dukungan suporter, popularitas, dan keuntungan yang bisa diperoleh pemain keturunan saat membela skuad Garuda

sekitarbandungcom – Radja Nainggolan menyesal tidak pernah memperkuat Timnas Indonesia setelah mengungkapkan pandangannya mengenai dukungan suporter, popularitas, dan keuntungan yang bisa diperoleh pemain keturunan saat membela skuad Garuda.

Pernyataan mantan gelandang Timnas Belgia tersebut kembali menjadi perhatian setelah wawancaranya dengan media Belgia, Het Nieuwsblad, diberitakan pada Senin, 12 Oktober 2026.

Radja Nainggolan Menyesal Tak Memilih Timnas Indonesia

Radja Nainggolan mengungkapkan bahwa dirinya kini memandang pilihan karier internasionalnya secara berbeda.

Pemain kelahiran Antwerpen, Belgia, pada 4 Mei 1988 itu pernah memperkuat Timnas Belgia dan menjalani karier bersama sejumlah klub Eropa, termasuk AS Roma serta Inter Milan.

Dalam wawancara yang dikutip detikSport, Nainggolan mengaku terpukau dengan antusiasme suporter Indonesia.

Ia juga menilai popularitas yang diperoleh pemain ketika membela Indonesia dapat memberikan manfaat bagi kehidupan setelah karier profesional berakhir.

Nainggolan mengatakan bahwa ketika mengambil keputusan pada awal karier internasionalnya, ia belum memikirkan berbagai keuntungan tersebut.

Kini, pada usia 38 tahun, ia melihat pilihannya dari sudut pandang berbeda, terutama setelah perjalanan internasionalnya bersama Belgia berakhir.

Radja Nainggolan Singgung Uang dan Sponsor Mewah

Selain membicarakan penyesalannya, Nainggolan menyoroti keuntungan yang menurutnya dapat dinikmati pemain keturunan yang memilih memperkuat Timnas Indonesia.

Ia menyebut nama merek mewah Louis Vuitton, Hublot, dan Rolex ketika membandingkan situasi pemain di Indonesia dengan pemain yang berkarier di Belgia.

Pernyataan tersebut muncul dalam konteks pembicaraan mengenai perhatian publik dan dukungan komersial terhadap pemain Timnas Indonesia.

Namun, komentar Nainggolan tidak berarti seluruh pemain otomatis menerima sponsor atau barang mewah dari merek-merek tersebut.

Ia juga menyinggung Ivar Jenner, pemain yang ketika itu bermain untuk Jong Utrecht. Perbandingan tersebut menggambarkan pandangannya mengenai perbedaan sorotan publik dan peluang komersial yang mungkin didapat pemain ketika membela tim nasional.

Baca juga: Pachuca vs Necaxa Berakhir 3-3, Santos Laguna Taklukkan San Luis 2-1 di Liga MX

Dukungan Suporter Timnas Indonesia Jadi Sorotan

Nainggolan mengaku terkesan dengan fanatisme pendukung Timnas Indonesia. Ia mencontohkan pertandingan melawan Vietnam atau Irak yang menurutnya dapat menarik sekitar 70 ribu penonton.

Besarnya dukungan tersebut menjadi salah satu hal yang ia soroti ketika membicarakan kemungkinan karier internasional bersama Indonesia.

Antusiasme suporter tidak hanya berkaitan dengan jumlah penonton di stadion, tetapi juga perhatian masyarakat terhadap pemain dan perjalanan tim nasional.

Popularitas tersebut dapat membuka peluang komersial bagi atlet, seperti kerja sama dengan merek, kegiatan promosi, dan pengembangan citra profesional.

Meski demikian, besarnya peluang tetap bergantung pada kontrak, reputasi pemain, serta kesepakatan dengan pihak sponsor.

Karier Internasional Radja Nainggolan Bersama Belgia

Nainggolan memilih membela Timnas Belgia sepanjang karier internasionalnya. Ia tercatat mengoleksi 30 penampilan dan enam gol bersama tim nasional senior Belgia, berdasarkan data profil pemain yang tersedia di Transfermarkt.

Ia juga pernah bermain di sejumlah klub Eropa. Namanya dikenal saat memperkuat AS Roma dan Inter Milan di Italia, sebelum melanjutkan perjalanan kariernya bersama klub lain di Belgia dan sempat bermain di Indonesia.

Pengalaman tersebut membuat Nainggolan memiliki perspektif mengenai perbedaan lingkungan sepak bola Eropa dan Indonesia.

Akan tetapi, pernyataannya mengenai kemungkinan membela Indonesia merupakan refleksi atas keputusan masa lalu, bukan perubahan status kewarganegaraan olahraga yang dapat dilakukan begitu saja.

Radja Nainggolan Sebut Bisa Berkarier 15 Tahun Bersama Garuda

Dalam wawancara tersebut, Nainggolan menyatakan bahwa dirinya mungkin dapat menjalani karier internasional selama 15 tahun apabila dahulu memilih Timnas Indonesia.

Ia mengaitkan penyesalan itu dengan perjalanan kariernya bersama Belgia yang berakhir di bawah pelatih Roberto Martínez.

Pernyataan tersebut bersifat hipotetis karena tidak ada kepastian bahwa ia benar-benar akan memperoleh masa pengabdian selama itu bersama Indonesia.

Kesempatan bermain di tim nasional dipengaruhi banyak faktor, termasuk usia, performa, persaingan pemain, dan keputusan pelatih.

Meski demikian, pengakuan Nainggolan memperlihatkan bagaimana seorang pemain dapat menilai ulang keputusan karier setelah memperoleh pengalaman lebih panjang.

Perhatian publik Indonesia dan potensi manfaat bagi citra profesional menjadi bagian dari pertimbangan yang kini ia soroti.

Radja Nainggolan Kini Melanjutkan Karier di Belgia

Setelah meninggalkan sejumlah klub besar Eropa dan sempat bermain di Indonesia bersama Bhayangkara Presisi Lampung FC, Nainggolan kembali melanjutkan karier sepak bolanya di Belgia.

Berdasarkan profil pemain di Transfermarkt, ia bergabung dengan Patro Eisden pada Januari 2026. Klub tersebut berkompetisi di Challenger Pro League, kasta kedua sepak bola Belgia.

Pengakuan terbarunya mengenai Timnas Indonesia kembali menghubungkan perjalanan karier Nainggolan dengan sepak bola Tanah Air.

Meski tidak pernah memperkuat skuad senior Garuda, pernyataannya tentang dukungan suporter dan peluang komersial memperlihatkan bahwa pengalaman serta pilihan masa lalu masih menjadi bahan refleksi bagi pemain tersebut.

Baca juga: Menelusuri Racing Club, Tradisi Panjang dan Tantangan di Sepak Bola Argentina

Related Post

Tinggalkan komentar