Sekitarbandung.com – Pada November 2017, dunia menahan napas. Gunung Agung di Bali “batuk” keras, memuntahkan abu setinggi 3.000 meter. Tapi yang lebih mengerikan bukan abunya, melainkan keheningannya.
Bandara Ngurah Rai ditutup total. 445 penerbangan batal. Bali yang biasanya riuh oleh tawa turis, mendadak senyap. Wajah-wajah panik memenuhi terminal keberangkatan, berebut keluar dari pulau itu.
Kepanikan menyebar lebih cepat dari awan panas. Jepang, China, dan Australia langsung mengeluarkan Travel Warning. Efeknya bahkan tak main-main.
Penerbangan ke Denpasar anjlok 30%. Hotel-hotel mewah kosong melompong. Ribuan pegawai wisata dirumahkan. Bali bukan lagi surga. Saat itu, Bali berada di ambang kebangkrutan ekonomi total.
Namun, di balik kepanikan itu, ada fakta yang tertutup kabut ketakutan. Apakah seluruh Bali bahaya? Tidak. Karena zona bahaya letusan hanyalah radius 6-10 km dari puncak gunung.
Tahukah kamu? Itu hanya 2% dari total luas Pulau Bali. Sisanya? Kuta, Seminyak, Nusa Dua, Sanur (98% wilayah) AMAN 100%. Tapi dunia sudah terlanjur takut. Nasi sudah jadi bubur.
Siapa yang bisa melawan ketakutan massal satu dunia? Di balik layar, dibentuklah tim khusus untuk “Memadamkan Api Isu”. Salah satu pakar komunikasi strategis yang krusial adalah Marianne Admardatine.
Tugasnya adalah mengubah narasi dari “Bali Bencana” menjadi “Bali Siap Dikunjungi”. Ini bukan perang melawan alam, tapi perang melawan hoax dan persepsi.
Baca Juga: Demi Kemerdekaan Bangsa Indonesia, I Gusti Ngurah Rai Rela Menukar dengan Nyawanya
Langkah yang diambil sangat cerdas dan taktis, yaitu sebagai berikut:
- Menurunkan status “Awas” menjadi “Waspada” (fokus hanya di zona merah).
- Menggaungkan tagline “Bali is Safe”. Menunjukkan bahwa turis masih bisa berjemur dengan aman di Kuta meski gunung berasap di kejauhan.
- Pemerintah berani memberi asuransi keselamatan. Tujuannya satu, yaitu mengembalikan trust (kepercayaan).
Hasilnya? Ajaib! Kepercayaan dunia pulih dengan kecepatan kilat. Jika erupsi 1963 butuh tahunan untuk pulih, maka kali ini Bali bangkit kurang dari 9 bulan.
Pada September 2018, turis asing kembali membanjiri Bali dengan angka fantastis, yaitu 555.903 kunjungan. Denyut nadi Pulau Dewata akhirnya berdetak kembali.
Lantas siapa sebenarnya wanita yang memimpin strategi komunikasi krisis ini? Marianne Admardatine, CEO Hill & Knowlton Indonesia. 4x menjabat CEO di perusahaan multinasional.
“Pawang” yang menangani komunikasi krisis Bank Indonesia saat Rupiah melemah (2015). Beliau adalah orang yang dicari ketika reputasi sedang di ujung tanduk.
Apa yang terjadi di Bali bisa terjadi pada bisnis atau personal brand-mu. Satu skandal, satu review jelek, satu blunder di media sosial, bisa menghancurkan reputasi yang dibangun bertahun-tahun.
Terakhir, pertanyaannya: Jika krisis itu datang besok, apakah kamu sudah punya strategi untuk selamat? Atau kamu akan diam saja melihat semuanya hancur?
Baca Juga: Bukan Sekedar Pilot Biasa, Abdul Halim Perdanakusuma Sang Penghancur Nazi Jerman

