Hadapi Barikade Tanpa Senjata Saat Perjuangan Reformasi, Senyum Terakhir Mahasiswa ini Justru Dibalas Timah Panas Militer

Sekitarbandung.com – Banyak yang mengira bahwa perjuangan Reformasi telah usai saat Pak Soeharto mundur pada bulan Mei 1998. Padahal, anggapan tersebut keliru. Pertarungan yang sesungguhnya

Dicky Wicaksono

Hadapi Barikade Tanpa Senjata Saat Perjuangan Reformasi, Senyum Terakhir Mahasiswa ini Justru Dibalas Timah Panas Militer
Hadapi Barikade Tanpa Senjata Saat Perjuangan Reformasi, Senyum Terakhir Mahasiswa ini Justru Dibalas Timah Panas Militer

Sekitarbandung.com – Banyak yang mengira bahwa perjuangan Reformasi telah usai saat Pak Soeharto mundur pada bulan Mei 1998. Padahal, anggapan tersebut keliru.

Pertarungan yang sesungguhnya justru pecah pada November 1998 (Tragedi Semanggi I). Mahasiswa kembali tumpah ke jalan karena mencium gelagat bahwa Reformasi sedang dibajak oleh sisa-sisa Orde Baru.

Ribuan mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI), Atma Jaya, Trisakti, dan kampus lain bergerak mengepung Gedung MPR/DPR dengan tuntutan yang sangat jelas.

Tuntutan tersebut yaitu menolak Sidang Istimewa yang dianggap hanya bagi-bagi kekuasaan dan menghapus Dwifungsi ABRI. Mereka ingin demokrasi murni, bukan demokrasi ganti casing.

Pada Jumat, 13 November 1998, di Simpang Semanggi, langkah mahasiswa dihadang oleh barikade aparat yang sangat ketat.

Tank tempur disiapkan, senjata dikokang. Suasana mencekam. Mahasiswa hanya bersenjata bendera dan poster, sementara aparat bersenjata peluru tajam.

Dor! Dor! Dor! Tembakan memecah langit Jakarta. Bernardus Realino Norma Irmawan (Wawan), mahasiswa Atma Jaya, tumbang dan menjadi korban. Ironisnya, ia bukan pelempar batu.

Wawan adalah relawan medis. Sebutir peluru tajam menembus dadanya justru saat ia hendak menolong teman yang terluka. Rompi medisnya tidak kuasa menahan kebrutalan aparat.

Baca Juga: Tanpa Pengadilan dan Hakim, Kisah Ribuan Preman Jalanan Dihilangkan oleh Petrus

Malam itu, Jakarta mencekam. Kampus Atma Jaya berubah menjadi rumah sakit perang. Lantai koridor penuh darah.

Mahasiswa berteriak histeTanpa Pengadilan dan Hakim, Kisah Ribuan Preman Jalanan Dihilangkan oleh Petrusris melihat teman-temannya tumbang satu per satu. Total 17 warga sipil tewas dalam tragedi ini.

Setahun kemudian, pada September 1999, tragedi berulang di Semanggi II. Mahasiswa UI, Yap Yun Hap, tewas ditembak di depan kampusnya.

Dua tragedi, puluhan nyawa, tetapi sampai hari ini, dalangnya tidak pernah diadili di Pengadilan HAM. Sungguh ironis karena bahkan setelah puluhan tahun pelaku tidak ditangkap.

Jika kamu melihat ibu-ibu berpayung hitam di depan Istana setiap Kamis, maka itu adalah Aksi Kamisan. Salah satunya yaitu Ibu Sumarsih, ibunda Wawan.

Hampir kurang lebih 20 tahun, ia selalu berdiri di sana. Tujuannya bukan untuk mengemis rupiah, tetapi untuk menagih satu janji, yaitu keadilan.

Setiap ketikan kritik dan konten keberanian yang kita unggah hari ini adalah warisan dari darah yang tumpah di aspal Semanggi. Wawan dan Yap Yun Hap gugur agar kita tidak lagi perlu berbisik saat bicara kebenaran.

Jangan jadikan kebebasan ini sebagai ruang kosong tanpa makna. Mereka tidak mati untuk dilupakan, tetapi untuk diingat dalam setiap helai napas demokrasi kita.

Baca Juga: Hanya Pakai Senjata Rampasan, Pejuang Republik ini Sukses Bikin Militer Inggris Kabur Terbirit-birit

Related Post

Tinggalkan komentar