Setelah Dua Kali Cintanya Ditolak, Tan Malaka Pilih Melajang Seumur Hidup Demi Memerdekakan Indonesia

Sekitarbandung.com – Tan Malaka merupakan otak jenius di balik konsep “Republik Indonesia”. Ia adalah pengembara yang diburu oleh sejumlah intelijen lintas benua. Namun, di balik

Dicky Wicaksono

Setelah Dua Kali Cintanya Ditolak, Tan Malaka Pilih Melajang Seumur Hidup Demi Memerdekakan Indonesia
Setelah Dua Kali Cintanya Ditolak, Tan Malaka Pilih Melajang Seumur Hidup Demi Memerdekakan Indonesia

Sekitarbandung.com – Tan Malaka merupakan otak jenius di balik konsep “Republik Indonesia”. Ia adalah pengembara yang diburu oleh sejumlah intelijen lintas benua.

Namun, di balik keberaniannya menantang dunia, ada satu hal yang gagal ia taklukkan, yaitu hati seorang wanita. Sepanjang hidupnya, ia akhirnya memilih untuk melajang.

Kisah ini bermula pada tahun 1907 di Kweekschool Bukittinggi. Ibrahim (nama asli Tan Malaka) jatuh cinta pada Syarifah Nawawi, satu-satunya siswi perempuan di sekolah itu.

Syarifah bukan gadis biasa. Ia merupakan sosok yang cerdas, menawan, dan perempuan Minang pertama yang mengecap pendidikan Eropa.

Saat Tan melanjutkan studi ke Belanda, ia terus merawat rasanya. Dari dinginnya Eropa, ia rajin mengirim surat cinta untuk Syarifah di tanah air.

Namun, surat-surat penuh rindu itu tidak pernah sekalipun mendapatkan balasan. Cinta Tan Malaka bertepuk sebelah tangan.

Hingga suatu hari, kabar pahit sampai ke telinga Tan. Syarifah menikah dengan R.A.A. Wiranatakoesoema V, seorang bupati terpandang.

Baca Juga: Hanya karena Salah Omong, Tembok Berlin sebagai Pemisah Selama 28 Tahun Runtuh dalam Waktu Semalam

Hatinya hancur bukan hanya karena kehilangan, tetapi juga karena melihat gadis pujaannya masuk ke dunia feodalisme, sistem yang sangat dibenci oleh Tan Malaka.

Pada tahun 1924, Syarifah bercerai. Mendengar kabar tersebut, harapan Tan kembali tumbuh. Di tengah pelariannya sebagai buronan politik, ia mencoba melamar Syarifah untuk kedua kalinya.

Namun, takdir tetap tidak berpihak. Pinangannya kembali ditolak mentah-mentah. Kekecewaan itu ia ubah menjadi energi perjuangan.

Ketika ditanya mengapa ia tetap melajang, jawabannya melegenda:

“Perhatian saya terlalu besar untuk perjuangan. Saya tidak punya waktu untuk berkeluarga.”

Baginya, kemerdekaan Indonesia adalah segalanya.

Takdir memang tidak menyatukan mereka, namun sejarah mencatat pengabdian keduanya.

Syarifah Nawawi menjadi tokoh pendidikan sekaligus pendiri organisasi perempuan PERWARI, sementara Tan Malaka gugur sebagai pahlawan yang mewariskan konsep Republik.

Dua jiwa besar yang memilih mencintai bangsa dengan caranya masing-masing.

Baca Juga: Tan Malaka, Penggagas Kemerdekaan yang Hidupnya Berakhir Tragis di Tangan Bangsanya Sendiri

Related Post

Tinggalkan komentar