Sekitarbandung.com – Pada Desember 2012 hingga Maret 2016, Stasiun Kami-Shirataki di Pulau Hokkaido, Jepang, berada di daerah yang sangat sepi dan jumlah penumpangnya terus menurun dari tahun ke tahun.
Pada suatu waktu, pihak kereta api menyadari bahwa hanya ada satu siswi yang masih menggunakan stasiun tersebut untuk pergi dan pulang sekolah.
Kereta yang berhenti di stasiun ini dikabarkan menyesuaikan dengan jadwal keberangkatan dan kedatangan agar sesuai dengan jam sekolah siswi tersebut.
Setiap hari, siswi tersebut naik kereta, pergi ke sekolah, belajar dengan tekun, dan kembali lagi. Waktu terus berjalan hingga akhirnya tiba saat kelulusan.
Baca Juga: Lain di Stadion dan Lain di Rumah, Suporter Laki-laki Timnas Jepang Tuai Banyak Kritik
Setelah bertahun-tahun melayani satu-satunya penumpang, stasiun ini akhirnya ditutup secara resmi karena tidak ada lagi kebutuhan untuk keberadaannya.
Kisah kecil tentang satu siswi dan sebuah stasiun terpencil ini menyentuh hati banyak orang di seluruh dunia. Pengorbanan yang sunyi, tetapi sangat bermakna.
Di tengah perhitungan efisiensi dan keuntungan, kisah ini menjadi pengingat bahwa terkadang sebuah layanan publik juga dapat memiliki nilai kemanusiaan yang sangat besar.
Meski stasiunnya telah ditutup, cerita tentang Stasiun Kami-Shirataki masih dikenang sebagai simbol kepedulian terhadap pendidikan dan masa depan generasi muda.
Baca Juga: Kingfisher, Burung yang Jadi Rahasia Revolusi Kereta Cepat di Jepang

