Sekitarbandung.com – Sejarah mencatatnya sebagai wanita besi yang tak terkalahkan. Dialah Malahayati, Laksamana Laut wanita pertama di dunia.
Namun, di balik kegagahannya memegang rencong, tersimpan hati yang pernah hancur lebur. Kekuatannya tidak lahir dari ambisi, melainkan dari kepedihan yang teramat dalam.
Semua bermula di Teluk Haru. Suami tercintanya, Laksamana Zainal Abidin, gugur saat bertempur melawan Portugis. Bagi Malahayati, kematian suaminya bukan sekadar kehilangan panglima, tapi kehilangan separuh jiwanya. Dunia serasa runtuh.
Namun, Malahayati menolak untuk larut dalam tangisan di sudut kamar. Ia melihat sekelilingnya. Ia bukan satu-satunya wanita yang menangis.
Ribuan wanita Aceh lainnya juga menjadi janda karena perang itu. Malahayati bangkit. Ia mengusap air matanya dan bersumpah:
“Kematian suami kita tidak boleh sia-sia. Kita yang akan melanjutkan perjuangan mereka.”
Malahayati lalu mengumpulkan para janda tersebut. Terbentuklah Armada Inong Balee (Pasukan Janda). Mereka adalah wanita-wanita yang sudah tidak punya rasa takut, karena rasa takut mereka sudah mati bersama suami mereka.
Mereka membangun benteng, berlatih meriam, dan bersiaga di tengah laut. Bukan untuk mencari mati, tapi untuk mempertahankan harga diri.
Pada tahun 1599, sebuah kapal Belanda pimpinan Cornelis de Houtman tiba di Aceh. Cornelis dikenal sombong, kasar, dan pengkhianat. Ia meremehkan Sultan Aceh dan menghina rakyat setempat.
Malahayati mendidih. Ia melihat arogansi yang sama dengan penjajah yang dulu membunuh suaminya. Kali ini, ia tidak akan membiarkan mereka lolos sama sekalipun.
Malahayati memimpin pasukan Inong Balee menyerbu kapal Belanda pada 11 September 1599. Di tengah kekacauan perang, mata Malahayati terkunci pada satu sosok: Cornelis de Houtman.
Tanpa ragu, ia langsung melompat dan menantang pemimpin Belanda itu duel satu lawan satu. Tentu ini adalah pertarungan yang timpang di mata orang awam: wanita vs pria Eropa berbadan besar.
Tapi Cornelis lupa, ia sedang melawan wanita yang membawa dendam ribuan janda. Dengan kelincahan seorang laksamana, Malahayati menghujamkan rencongnya tepat ke jantung Cornelis.
Sang jenderal sombong itu akhirnya tewas di kaki seorang wanita Aceh. Belanda menjadi gempar. Mereka tak percaya pemimpinnya tewas oleh seorang wanita.
Keberanian Malahayati memaksa dunia, bahkan Ratu Inggris, menaruh hormat pada Aceh. Ia membuktikan bahwa:
“Wanita mungkin bisa menangis karena cinta, tapi ia juga bisa menghancurkan tirani demi menjaga kehormatan orang yang dicintainya.”
Baca Juga: Kisah Tragis Agustinus Adisutjipto yang Namanya Diabadikan Sebagai Nama Bandara di Yogyakarta

