Sekitarbandung.com – Jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, Nusantara pernah memiliki seorang raja agung yang namanya mampu membuat kongsi dagang terkuat di dunia, VOC, gemetar ketakutan. Namanya adalah Sultan Agung Hanyakrakusuma.
Sebagai penguasa terbesar dari Kesultanan Mataram Islam pada abad ke-17, ketika banyak penguasa lokal mulai tergiur atau terpaksa tunduk pada monopoli dagang dan rayuan VOC, Sultan Agung justru memilih jalan yang berbeda.
Baginya, kehadiran Belanda di Batavia adalah duri dalam kedaulatan bangsa. Ia menolak keras segala bentuk kompromi dan tawaran damai bersyarat.
Sultan Agung bukanlah raja yang hanya duduk nyaman di singgasana keraton. Sejak naik takhta pada tahun 1613, ia membawa visi besar yang melampaui zamannya.
Visi tersebut adalah menyatukan seluruh tanah Jawa di bawah satu panji kedaulatan serta menyapu bersih penjajah asing dari bumi Nusantara.
Tak sudi tanahnya diinjak penjajah, pada tahun 1628 dan 1629, Sultan Agung mengobarkan operasi militer paling kolosal dalam sejarah perlawanan lokal.
Ia mengirim puluhan ribu prajurit elite Mataram menembus ratusan kilometer hutan dari Jawa Tengah untuk mengepung benteng VOC di Batavia.
Baca Juga: Penyumbang Pesawat Pertama RI, Tokoh Legendaris Asal Aceh ini Kini Tutup Mata Selamanya
Batavia pun dikurung total dari darat dan laut. Pasukan Mataram membendung dan membelokkan aliran sungai yang mengarah ke kota, sementara serangan bertubi-tubi membuat mental pasukan Belanda runtuh.
Puncaknya, Gubernur Jenderal VOC, Jan Pieterszoon Coen, tewas di tengah masa pengepungan yang mencekam tersebut.
Meski pada akhirnya pasukan Mataram ditarik mundur akibat krisis logistik dan wabah penyakit yang mematikan, serangan besar ini meninggalkan trauma mendalam bagi VOC.
Sultan Agung membuktikan bahwa bangsa pribumi memiliki kekuatan militer besar yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Selain sebagai panglima perang penakluk, ia juga merupakan seorang budayawan yang visioner. Pada masa pemerintahannya, Sultan Agung berhasil menyatukan masyarakat pesisir dan pedalaman.
Hal tersebut dilakukan dengan menciptakan Kalender Jawa, sebuah mahakarya yang memadukan sistem penanggalan Hijriah dan Saka, yang tetap digunakan hingga saat ini.
Ia wafat pada tahun 1645 dan dimakamkan di puncak Imogiri. Berkat keberanian dan ketegasannya dalam melawan kolonialisme, Republik Indonesia menetapkan Sultan Agung sebagai Pahlawan Nasional.
Baca Juga: Douwes Dekker Lahir sebagai Penjajah, tetapi Justru Pilih Mati sebagai Pahlawan Indonesia

