Sekitarbandung.com – Lahir dari keluarga keraton yang mapan, Surastri Karma Trimurti menolak hidup dalam kenyamanan. Di saat para pejuang lain mengangkat bambu runcing dan senapan, ia memilih jalan peperangan yang tidak kalah berbahaya.
Senjata utamanya yaitu mesin tik, kertas, dan tinta. Sebagai seorang jurnalis, tulisan-tulisannya sangat tajam dalam membongkar ketidakadilan dan kebusukan pemerintah kolonial.
Tulisannya yang pro-kemerdekaan membuat penjajah geram. Ia menjadi incaran utama intelijen Belanda (PID). Untuk mengelabui aparat, ia sering berganti nama samaran.
Namun, risiko menjadi jurnalis pergerakan sangatlah brutal. Ia berkali-kali ditangkap, diinterogasi, dan dijebloskan ke dalam penjara. Baginya, jeruji besi hanyalah risiko kecil dari sebuah cita-cita besar bernama kemerdekaan.
Masa pendudukan militer Jepang membawa ujian yang lebih kelam. Sikapnya yang menentang propaganda fasis Jepang membuatnya kembali ditangkap oleh tentara Kenpeitai.
Tragisnya, saat ditangkap, S.K. Trimurti sedang hamil tua. Tanpa perawatan medis yang layak dan di tengah siksaan batin, ia terpaksa melahirkan anak pertamanya di lantai dingin Penjara Bulu, Semarang.
Dalam perjuangannya, ia bersanding dengan Sayuti Melik, tokoh pemuda yang kelak mengetik naskah Proklamasi. Namun, S.K. Trimurti menolak untuk tenggelam di balik nama suaminya.
Baca Juga: Bikin Militer Jepang Kocar-kacir, Supriyadi justru Menghilang secara Misterius
Ia bukan sekadar “istri dari seorang tokoh besar”. Namun, ia merupakan tokoh utama dalam medan juangnya sendiri. Pasangan ini menjadi simbol perlawanan, meski sering kali harus berjuang dari bilik penjara yang terpisah.
Setelah Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaan, Bung Karno sangat memahami kualitas dan ketegasan Trimurti. Pada masa Kabinet Amir Sjarifuddin, Bung Karno mempercayakan sebuah posisi krusial kepadanya.
S.K. Trimurti diangkat menjadi Menteri Perburuhan. Ia menorehkan sejarah abadi sebagai perempuan pertama yang menduduki kursi menteri di Republik ini.
Ketegasannya tidak hanya berlaku di ranah politik. Sebagai pelopor hak-hak perempuan, ia menentang keras poligami. Saat Sayuti Melik memutuskan untuk menikah lagi, S.K. Trimurti dengan tegar memilih untuk berpisah.
Ia tidak mau mengkhianati prinsip yang selama ini ia perjuangkan. Integritas merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar, baik di meja pemerintahan maupun di dalam rumah tangga.
S.K. Trimurti wafat pada tahun 2008 di usia 96 tahun. Ia meninggalkan warisan yang jauh melampaui gelar kepahlawanannya. Ia membuktikan bahwa perempuan bisa berdiri di garis depan.
Selain itu, perempuan juga bisa menjadi jurnalis yang ditakuti penjajah, menjadi menteri yang membela nasib kaum buruh, dan menjadi manusia merdeka yang tidak pernah menjual prinsipnya. Sejarah mencatatnya dengan tinta emas kebanggaan.
Baca Juga: Punya Otak Luar Biasa Cerdas, R. A. Kartini Justru Dikurung Hanya untuk Menunggu Dilamar

