Tolak Mobil dan Harta dari Penjajah, Ismail Marzuki Wafat Tragis di Rumah Kontrakan

Sekitarbandung.com – Ismail Marzuki hadir dalam bentuk seutas dawai biola, tuts piano, dan lirik lagu yang mampu membakar darah juang jutaan rakyat. Namanya mungkin lebih

Dicky Wicaksono

Tolak Mobil dan Harta dari Penjajah, Ismail Marzuki Wafat Tragis di Rumah Kontrakan
Tolak Mobil dan Harta dari Penjajah, Ismail Marzuki Wafat Tragis di Rumah Kontrakan

Sekitarbandung.com – Ismail Marzuki hadir dalam bentuk seutas dawai biola, tuts piano, dan lirik lagu yang mampu membakar darah juang jutaan rakyat.

Namanya mungkin lebih identik dengan pusat kesenian megah di Jakarta, yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM). Namun, di era revolusi, ia adalah “ancaman serius” bagi eksistensi penjajah Belanda di bumi Nusantara.

Lagu-lagu ciptaannya seperti Rayuan Pulau Kelapa, Halo-Halo Bandung, hingga Gugur Bunga bukanlah sekadar lagu biasa.

Karya-karya tersebut merupakan “propaganda” patriotik tingkat tinggi yang mampu membuat para pemuda nekat maju menembus rentetan peluru musuh tanpa rasa takut.

Saking besarnya pengaruh dari lagu-lagu Ismail Marzuki, militer Belanda sampai dibuat frustrasi dan panik, bahkan karya-karyanya dilarang keras diputar di radio mana pun.

Sang maestro diawasi dengan sangat ketat, diintimidasi, serta ruang geraknya dibatasi habis-habisan oleh tentara NICA.

Menyadari bahwa sang seniman tidak bisa dibungkam dengan ancaman, Belanda kemudian mengubah taktik dengan mencoba merayu dan menyogoknya.

Ia ditawari berbagai fasilitas mewah, mulai dari mobil pribadi hingga gaji besar, dengan syarat bersedia berkhianat dan memimpin orkes di radio propaganda milik Belanda.

Baca Juga: Berani Senggol Ego Presiden, Jenderal Ahli Strategi Ini Dipaksa Pensiun Dini di Usia Muda

Namun, sang maestro menolak mentah-mentah tawaran tersebut. Ia tidak sudi mengorbankan idealisme dan bakat seninya demi kepentingan penjajah.

Daripada hidup bergelimang harta namun mengkhianati republik, ia memilih keluar dari radio Belanda dan menempuh jalan penuh penderitaan.

Ismail Marzuki bersama istrinya terpaksa hidup berpindah-pindah untuk menghindari kejaran intelijen Belanda.

Di tengah himpitan ekonomi yang berat dan kondisi fisik yang mulai melemah, ia tetap produktif menciptakan lagu-lagu perjuangan dari tempat persembunyiannya.

Namun, sejarah kerap terasa kejam. Pencipta karya-karya besar ini harus mengakhiri hidupnya dengan kisah yang tragis.

Ia mengidap penyakit paru-paru, yaitu Tuberkulosis (TBC), dalam kondisi parah tanpa biaya pengobatan yang memadai.

Ismail Marzuki wafat di usia 44 tahun pada 1958 di sebuah rumah kontrakan yang sangat sederhana.

Ia pergi dalam kesunyian dan keterbatasan, tetapi karya dan nadanya akan tetap abadi dalam menjaga semangat Republik Indonesia.

Baca Juga: Selamatkan RI dari Perpecahan, I Gusti Ketut Pudja Rela Dipenjara demi Pertahankan Tanah Leluhur

Related Post

Tinggalkan komentar