Transformasi Drastis Jepang yang Dulunya Raja Ngaret Jadi Negara yang Dianggap Kiblat Disiplin

Sekitarbandung.com – Sekitar tahun 1850-an, seorang perwira Belanda bernama Willem Huyssen van Kattendijke mencatat bahwa warga Jepang saat itu tidak pernah datang tepat waktu. Bahkan,

Dicky Wicaksono

[addtoany]

Transformasi Drastis Jepang yang Dulunya Raja Ngaret Jadi Negara yang Dianggap Kiblat Disiplin
Transformasi Drastis Jepang yang Dulunya Raja Ngaret Jadi Negara yang Dianggap Kiblat Disiplin

Sekitarbandung.com – Sekitar tahun 1850-an, seorang perwira Belanda bernama Willem Huyssen van Kattendijke mencatat bahwa warga Jepang saat itu tidak pernah datang tepat waktu.

Bahkan, layanan kereta api di sana dulu sering terlambat hingga 20 menit dari jadwal seharusnya. Namun, keadaan berubah drastis saat Jepang merasa terancam.

Restorasi Meiji Titik Balik Sejarah

Semua dimulai pada tahun 1868 melalui Restorasi Meiji. Saat itu, Jepang terancam oleh kolonialisme Barat yang telah berhasil menundukkan negara-negara Asia lainnya melalui superioritas teknologi dan militer.

Hal tersebut membuat Kaisar Meiji memutuskan untuk melakukan modernisasi radikal demi menjaga kedaulatan negara. Ia menjadikan disiplin sebagai “mesin” utama dalam pembangunan nasional.

Lalu, bagaimana cara Kaisar Meiji “menyulap” jutaan rakyatnya agar menjadi sangat disiplin?

1. Sekolah dan Kereta Api

  • Dijadikan sebagai “ujung tombak” untuk membiasakan masyarakat hidup terjadwal.

2. Penanaman Mindset Baru

  • Warga mulai dikenalkan dengan konsep “waktu adalah uang” demi mengejar kemajuan industri.

3. Standarisasi Jam (1873)

  • Jepang mengganti sistem waktu matahari yang tidak tetap dengan kalender Gregorian (Barat), yang membagi waktu menjadi 365 hari dalam setahun dan 366 hari pada tahun kabisat.

4. Fashion dan Alat

  • Jam tangan menjadi barang populer, sementara gaya rambut samurai (chonmage) mulai ditinggalkan demi penampilan modern ala Barat.

5. Propaganda

  • Pada tahun 1920-an, pemerintah bahkan menyebarkan poster panduan cara perempuan menata rambut hanya dalam 5 menit agar tidak membuang waktu.

6. Fukoku Kyohei (1873)

  • Melatih pemuda desa dengan kedisiplinan militer ala Prusia untuk mengejar ketertinggalan dari Barat.
  • Mereka diajarkan bahwa keterlambatan dalam barisan adalah bentuk kegagalan yang fatal.

Baca Juga: Jepang Jadi Negara “Tidak”, Berikut Hal-hal yang Tidak Boleh Dilakukan di Negeri Sakura!

Sisi Pro

1. Melindungi dari Kolonialisme

  • Disiplin waktu dan militer dianggap sebagai cara agar Jepang dapat menyamai kekuatan Barat dan tidak dijajah.

2. Perubahan Mentalitas

  • Masyarakat agraris yang cenderung santai berubah menjadi masyarakat industri yang efisien. Hal ini menjadi dasar kekuatan ekonomi Jepang setelah Perang Dunia II.

Sisi Kontra

1. Guncangan Budaya

  • Banyak masyarakat mengalami keterkejutan karena kehidupan yang sebelumnya santai tiba-tiba diatur secara ketat oleh waktu dan berbagai aturan.

2. Budaya Malu yang Kuat

  • Standar disiplin yang sangat tinggi membuat orang yang gagal atau terlambat sering merasa malu dan tertekan.

3. Manusia Seperti “Mesin”

  • Sejumlah kritik menyebut bahwa kedisiplinan ini membuat manusia seperti bagian dari mesin, sehingga kreativitas dan kebebasan individu dapat berkurang.

Hasilnya ternyata tidak main-main. Kedisiplinan yang awalnya “dipaksa” tersebut lama-kelamaan menjadi mendarah daging hingga saat ini.

Jepang membutuhkan puluhan tahun untuk membangun mentalitas tersebut. Kalau menurut kamu, apakah standar disiplin sekeras ini bisa diterapkan di Indonesia?

Baca Juga: Menteri Jepang Ini Berlari hingga Minta Maaf ke Rakyat karena Telat Rapat 5 Menit

Related Post

Tinggalkan komentar