Tren Penurunan Pernikahan 2014–2024, Generasi Muda Bukan Tak Ingin Menikah tapi Perlu Yakin Siap

Sekitarbandung.com – Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren penurunan jumlah pernikahan di Indonesia selama satu dekade terakhir. Dari 2014 hingga 2024, menandakan perubahan pola

Dicky Wicaksono

Tren Penurunan Pernikahan 2014–2024, Generasi Muda Bukan Tak Ingin Menikah tapi Perlu Yakin Siap
Tren Penurunan Pernikahan 2014–2024, Generasi Muda Bukan Tak Ingin Menikah tapi Perlu Yakin Siap

Sekitarbandung.com – Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren penurunan jumlah pernikahan di Indonesia selama satu dekade terakhir.

Dari 2014 hingga 2024, menandakan perubahan pola keputusan keluarga dalam memasuki jenjang pernikahan bersamaan dengan dinamika sosial dan ekonomi.

Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai laporan BPS, jumlah pernikahan tiap tahun memang mengalami fluktuasi.

Namun, secara keseluruhan angkanya menurun tajam dari 2.110.776 pernikahan pada 2014 menjadi sekitar 1.478.302 pada 2024, yang tercatat sebagai yang terendah dalam satu dekade terakhir.

Berikut tren pernikahan Indonesia berdasarkan data resmi BPS:

  • 2014: 2.110.776 pernikahan
  • 2015: 1.958.394 pernikahan
  • 2016: 1.937.185 pernikahan
  • 2017: 1.936.934 pernikahan
  • 2018: 2.016.071 pernikahan
  • 2019: 1.968.978 pernikahan
  • 2020: 1.792.548 pernikahan
  • 2021: 1.742.049 pernikahan
  • 2022: 1.705.348 pernikahan
  • 2023: 1.577.255 pernikahan
  • 2024: 1.478.302 pernikahan (terendah dalam satu dekade)

Penurunan ini mencerminkan bahwa meskipun angka pernikahan turun hampir 30 persen selama sepuluh tahun terakhir, generasi muda sebenarnya tidak serta-merta “tidak ingin menikah”.

Yang terjadi lebih kepada pergeseran prioritas dan pertimbangan matang sebelum melangkah ke pernikahan.

Baca Juga: Unik dan Bermakna, Gen Z Ini Pilih Bibit Pohon Jadi Souvenir Saat Hari Pernikahan

Beberapa faktor yang kerap menjadi pertimbangan generasi muda antara lain kesiapan ekonomi, seperti pekerjaan yang stabil dan penghasilan cukup untuk membiayai kehidupan rumah tangga di tengah biaya hidup yang meningkat.

Selain itu, kesiapan mental dan emosional juga menjadi aspek penting yang tidak bisa diabaikan sebelum menikah.

Generasi muda saat ini juga semakin memperhatikan tujuan hidup yang lebih luas, seperti pendidikan lebih tinggi dan pengembangan karier sebelum berkomitmen pada pernikahan.

Pola pikir yang lebih dewasa ini mencerminkan bukan penolakan terhadap pernikahan tetapi penekanan pada kesiapan hidup secara menyeluruh.

Perubahan sosial lainnya, seperti pembukaan peluang kerja yang lebih luas bagi perempuan dan meningkatnya angka wanita mandiri, turut mengubah dinamika keputusan menikah.

Kesadaran untuk menetapkan tujuan hidup dulu sebelum menikah membuat angka pernikahan turun, tetapi bukan berarti generasi muda tidak menghargai institusi pernikahan itu sendiri.

Dengan demikian, tren penurunan pernikahan dalam data BPS lebih mencerminkan sikap kehati-hatian dan pertimbangan yang matang dari generasi muda, bukan penolakan total terhadap institusi pernikahan.

Kesiapan secara ekonomi, emosional, dan sosial dinilai menjadi faktor kunci sebelum mereka memutuskan untuk membangun keluarga.

Baca Juga: Momen Haru Orang Tua Anniversary Pernikahan Ke-50 Tahun Dirayakan Satu Keluarga, Netizen: Seru Banget Keluarganya

Related Post

Tinggalkan komentar