sekitarbandung.com – Kabupaten Bandung Barat (KBB) saat ini tengah menjadi sorotan usai terjadi penumpukan sampah di sejumlah titik yang belum terselesaikan.
Permasalahan sampah ini masih jadi fokus utama pemerintah kabupaten untuk dicari solusinya. Karena dengan menumpuknya titik sampah menjadi bibit panyakit yang merusak kesehatan masyarakat.
Status permasalahan sampah di KBB sudah memasuki tahap mengkhawatirkan karena tidak adanya alat penghancur sampah atau insinerator.
Selain itu, kuota pengangkutan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti pun dibatasi hanya 17 ritase per hari sehingga volume sampah diberbagai titik belum bisa diatasi.
Untuk mengatasi permasalahan ini, Wabup KBB yakni Asep Ismail mengungkapkan bahwa langkah yang diambil pemerintah daerah adalah berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi untuk mengalihkan strategi penanganan sampah dari insinerator ke Refuse Derived Fuel (RDF).
Cara kerja RDF yaitu mengolah sampah domestik menjadi bahan bakar alternatif pengganti batu bara, bisa digunakan oleh pabrik semen atau PLTU.
“Penanganan sampah dari insenerator akan diganti ke RDF,” ujar Asep.
Sebelumnya, pemerintah kabupaten bersama Gubernur Jawa Barat membahas mengenai pengolahan sampah dengan insinerator, rencananya KDM akan memberikan 10 bantuan insinerator kepada pemerintah kabupaten tapi ternyata penggunaan insinerator ini bisa membahayakan kesehatan warga.
Baca juga : Wali Kota Bandung Dorong Hubungan Industrial yang Adil & Inklusif
‘Untuk janji Pak Gubernur, mungkin akan diganti dengan RDF, tidak lagi insinerator, karena bahaya bagi kesehatan dan pernapasan warga KBB,” lanjutnya.
Sehingga penanganan sampah ini dialihkan ke RDF, selain mengatasi penumpukan sampah bisa juga menambah nilai ekonomi dengan menjual olahan sampah tersebut kepada pelaku industri yang membutuhkan bahan bakar alternatif.
Jika ingin update tentang hal di sekitar bandung, selalu kunjungi website sekitarbandung.com
